Google Sembunyikan Dugaan Data Bocor Google+ Sejak Maret

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 11:18 WIB
Google Sembunyikan Dugaan Data Bocor Google+ Sejak Maret Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Beck Diefenbach/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Layanan jejaring sosial milik Alphabet, induk Google yakni Google+ akan ditutup setelah adanya dugaan kebocoran data terhadap 500 ribu akun. Kebocoran data ini diduga berasal dari bug atau glitch.

Google telah mendeteksi bug ini sejak Maret 2018 dan memilih untuk tidak melaporkannya karena takut akan pengawasan dari regulator.

Dilansir dari The Verge, Google takut untuk melaporkan bug ini mengingat masalah kebocoran data yang sedang dialami Facebook. Padahal bug ini mengekspos informasi akun Google+ seperti nama, alamat email, pekerjaaan, jenis kelamin dan usia. Data itu tetap terekspos meskpiun pengaturan privasi telah disetel "private" bukan "public".
Namun, Google mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan pengembang pihak ketiga menyadari bug atau menyalahgunakannya. Bug, mempengaruhi API (application programming interface) yang diakses oleh ratusan pengembang, tampaknya telah aktif antara 2015 dan 2018.


Google menemukan bug ini sebagai bagian dari Project Strobe yang memiliki misi untuk meninjau akses pengembang ketiga ke akun Google dan Android. Vice President of Engineering Google Ben Smith mencatat setidaknya ada 500 ribu akun yang terekspos.

Smith dalam keterangan resmi memberikan alasan mengapa tidak mengungkap langsung bug pada saat ditemukan.

"Setiap tahun, kami mengirim jutaan pemberitahuan kepada pengguna tentang bug dan masalah privasi dan keamanan. Kapan pun data pengguna mungkin terpengaruh, kami melampaui persyaratan hukum kami dan menerapkan beberapa kriteria yang difokuskan kepada pengguna kami untuk menentukan pemberian pemberitahuan.
"Privacy & Data Protection Office kami meninjau masalah ini, melihat jenis data yang terlibat, apakah kami dapat mengidentifikasi pengguna dengan akurat, apakah ada bukti penyalahgunaan, dan apakah ada tindakan yang dapat diambil oleh pengembang atau pengguna sebagai respon. Tak satu pun dari hal ini yang terpenuhi," tulis Smith dalam blog resmi.

Google+ akan dimatikan selama 10 bulan, artinya baru akan diaktifkan pada Agustus 2019. Smith mengatakan Google + masih direncanakan sebagai produk andalan dari Google. Langkah yang cukup aneh mengingat Google+ memiliki bug bermasalah yang bisa dimanfaatkan untuk mengeksploitasi data pengguna. (jnp/age)