Hal itu ditandai dengan pertemuan pada Senin (22/10) antara para pejabat Gedung Putih dan beberapa petinggi Google, Microsoft, Amazon, dan IBM untuk memberi kemudahan perizinan absen bagi pegawai perusahaan saat membantu berbagai proyek pemerintah.
Dilansir CNET, pemerintah Amerika berharap para tenaga ahli teknologi dapat membantu melakukan modernisasi lembaga-lembaga pemerintahan mulai dari negara bagian hingga federal. Ahli teknologi ini juga diharapkan bisa mengatasi tantangan untuk meningkatkan sistem perawatan kesehatan veteran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dilansir dari NBCNews, pemerintah sulit juga sulit untuk menggaet para teknisi atau ahli perangkat lunak untuk mengabdi kepada negara karena besarnya gaji di perusahaan swasta.
Oleh karena itu kesulitan menggaet tenaga ahli teknologi ini menjadi perhatian yang cukup lama bagi pemerintah AS.
Beberapa pekerja industri teknologi baru-baru ini memprotes kerja sama perusahaan mereka dengan pemerintah. Karyawan Google pada awal tahun ini meminta perusaaan untuk mundur dari Proyek Maven yang nootabene adalah insiatif Amerika untuk menggunakan kecerdasan buatan agar bisa mengendalikan pesawat tak berawak.
Karyawan Amazon pada bulan Juni memprotes penjualan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) kepada penegak hukum AS. Pada bulan yang sama, karyawan Microsoft memprotes kerja sama perusahaan dengan Immigration and Customs Enforcement (ICE), atas pemisahan keluarga yang melintasi perbatasan Amerika secara ilegal. Microsoft mengklaim tidak menyadari layanan Azure-nya digunakan untuk tujuan itu.
Sejauh ini, pihak Gedung Putih atau Google, Microsoft, Amazon, dan IBM masih enggan untuk berkomentar terkait rencana kolaborasi ini. (jnp/mik)