Pos Perbatasan Uni Eropa Uji Coba Terapkan Kecerdasan Buatan

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 09:17 WIB
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan digunakan di beberapa pos pemeriksaan perbatasan antar negara di Uni Eropa. Ilustrasi. (Istockphoto/metamorworks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan digunakan di beberapa pos pemeriksaan perbatasan antar negara di Uni Eropa. Program yang dinamakan iBorderCtrl akan dilaksanakan selama enam bulan di empat titik persimpangan perbatasan di Hungaria, Latvia dan Yunani dengan negara-negara di luar Uni Eropa.

Dilansir dari The Verge, BorderCtrl adalah proyek yang didanai Uni Eropa dengan menggunakan AI untuk memfasilitasi para wisatawan agar bisa lebih cepat menyeberang perbatasan.

Sistem ini mengharuskan turis untuk mengisi aplikasi online dan mengunggah beberapa dokumen, seperti paspor mereka, sebelum penjaga perbatasan mengambil alih untuk mengajukan pertanyaan.
Penjaga kemudian akan bertanya "Apa yang ada di koper Anda?" dan "Jika Anda membuka koper dan menunjukkan kepada saya apa yang ada di dalamnya, apakah itu akan mengkonfirmasi bahwa jawaban Anda benar?"


Para wisatawan akan menjawab pertanyaan ini sembari menghadap ke webcam. Kemudian sistem AI akan menganalisis dan menilai lusinan gerakan mikro di wajah wisatawan. Jika iBorderCtrl menentukan bahwa wisatawan mengatakan hal yang sejujurnya, maka mereka akan menerima kode QR agar mereka bisa melewati perbatasan.

Akan tetapi, jika AI mencurigai wisatawan berbohong, maka informasi biometric mereka akan diambil. Informasi ini mencakup sidik jari, pembuluh darah dan pencocokan wajah. Setelah itu baru para wisatawan ini akan diperiksa oleh agen manusia yang akan meninjau informasi ini dan membuat penilaian.
Program dianggap masih sangat eksperimental. Bahkan hasil uji coba AI ini hanya memiliki tingkat keberhasilan 76 persen. Namun, anggota tim iBorderCtrl percaya diri tingkat keberhasilan ini bisa ditingkatkan hingga 85 persen.

Bahkan apabila AI bisa memiliki tingkat keberhasilan 85 persen, hal ini masih menyisakan ruang untuk kesalahan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa banyak algoritme pengenalan wajah memiliki masalah dan bias tingkat kesalahan yang signifikan. (jnp/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK