Ia menekankan di era digital ini, akan muncul lapangan kerja baru untuk manusia. Manusia yang memutuskan, hendak merangkul profesi terbaru ini atau tidak. Profesi baru tersebut berkaitan dengan data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI).
"Ada masalah katanya robot akan menggantikan manusia. Ketika menggunakan robot AI, banyak pekerjaan dan tenaga manusia yang hilang, tapi sebenarnya banyak pekerjaan-pekerjaan baru dan bidang baru. Misalnya big data itu ada data scientist, atau AI master, sebelumnya itu tidak ada. Jadi selain hilang pekerjaan muncul pekerjaan baru," kata Rudi di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat, Selasa (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Microsoft Ikut Suntik Dana untuk Grab |
"Banyak terjadi profesi baru dengan adanya teknlogi big data dan AI. Meskipun banyak yang hilang. Misalnya penjaga tol, manusia diganti mesin, nanti ada juga operator bank. Tidak usah khawatir, nanti akan muncul profesi baru yang juga bisa menggantikan yang hilang," ujar Rudi.
Oleh karena itu sumber daya manusia (SDM) harus senantiasa ditingkatkan kemampuannya. Sugiharto mengatakan edukasi penting di era digital ini, terutama terkait digitalisasi.
Lihat juga:Rekam Jejak Google Plus Sebelum Mati Suri |
Sugihatro mengatakan ke depannya masyarakat tidak bisa menyalahkan pemerintah ketika profesi tertentu digantikan oleh robot. Pasalnya masyarakat harus memiliki kemauan untuk belajar sehingga bisa merangkul profesi-profesi baru di era digital.
"Robot tidak bisa lakukan hal-hal yang tertentu seperti manusia. Kita tidak bisa menolak dan menyalahkan pemerintah ketika itu terjadi . Ketika robot menggantikan manusia, kita harus kasih edukasi. Tidak bisa kita demo karena pemerintah berikan pekerjaan ke robot. Kita yang harus tingkatkan kemampuan dengan adanya kesempatan kerja baru di era digital," tutur Sughiharto. (jnp/evn)