Kecelakaan ini disinyalir terjadi karena kesalahan data sensor aliran udara (angle-of-attack [AOA] indicator system). Namun, saat itu Boeing belum memberikan manual bagaimana mengatasi situasi darurat ketika hal ini terjadi.
"Sudah saya jelaskan bahwa flight crew operation manual yang ada (saat) itu belum mencakup bagaimana menangani kondisi pesawat seperti yang terjadi (ketika kecelakaan)," ujar Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat kemarin (12/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatakan Boeing diharapkan harus mengumumkan pembaruan software untuk mengurangi resiko kecelakaan.
Soerjanto mengatakan Kementerian Perhubungan akan mengadakan latihan tambahan terkait penggunaan sistem dalam penerbangan berdasarkan revisi panduan Boeing. Menurut Soerjanto, sebelumnya Boeing tidak memprediksi kecelakaan akibat kesalahan AOA.
AOA adalah instrumen penting dari data yang dibutuhkan untuk membantu pesawat terbang di sudut yang tepat dalam kondisi aliran udara tertentu. Kesalahan software atau kesalahan sistem yang mengukur berapa tinggi hidung pesawat harus diarahkan.
Saat ini, investigasi fokus untuk melebarkan kejelasan prosedur yang telah disahkan oleh Amerika Serikat untuk membantu pilot mencegah pesawat 737 Max mengeluarkan reaksi berlebihan ketika data AOA itu hilang. Mereka juga tengah mencoba melatih para pilot untuk menghadapi situasi demikian.
Isi panduan itu adalah soal panduan membaca sensor posisi pesawat terhadap aliran udara saat terbang (angle of attack/AOA).
Sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (7/11), panduan itu diterbitkan setelah penyelidikan awal dari KNKT menyatakan pesawat nahas yang jatuh dan menewaskan 189 penumpangnya itu mengalami kendala pada sensor AOA. (jnp/eks)