Mengintip Teknologi Kapal Pencari Lion Air

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 11:56 WIB
Mengintip Teknologi Kapal Pencari Lion Air Baruna Jaya I (BPPT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapal riset Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Baruna Jaya I ikut dalam misi pencarian pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Karawang pada Senin (29/10). Kapal Baruna Jaya sendiri dilengkapi dengan teknologi untuk mengidentifikasi lokasi dan titik koordinat pesawat Lion Air JT-610.

Kelima teknologi ini adalah Multi Beam Echo Sounder, Side Scan Sonar, Magneto Meter atau (alat deteksi logam), Ping Locator, dan Remote Operate Vehicle (ROV).

1. Multi Beam Echo Sounder (MBES)
Alat ini merupakan pengembangan dari Single Beam Echo Sounder dan digunakan untuk memperoleh gambaran topografi atau permukaan tanah di bawah laut.


Multi Beam Echo Sounder bisa menentukan profil permukaan dasar laut dan kedalaman air dengan cakupan area yang luas. Alat itu bisa menjangkau kedalaman laut hingga 11 ribu meter.

"Multibeam Echo Sounder yang dimiliki kapal Baruna Jaya I menjangkau kedalaman kurang lebih dari 11.000 meter yang mana belum ada kapal-kapal riset di Indonesia yang memiliki kemampuan pemetaan dasar laut dari kedalaman dangkal 20 meter hingga kedalaman tersebut," kata Deputi BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) Hammam Riza dalam keterangan resmi.

2. Side Scan Sonar (SSS)
Side Scan Sonar. Prinsip alat ini serupa dengan alat yang pertama, namun memiliki jangkauan lebih luas dan berfungsi untuk melakukan pemetaan dengan gambar yang lebih tajam.

"Gunanya untuk memetakan dasar perairan, dan alat ini dapat memberi gambaran apabila ada obyek di dasar laut," ujar Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) BPPT, M. Ilyas.

Setiba di lokasi pencarian, diungkap Ilyas, kapal mulai menggunakan MBES dan SSS untuk melakukan pemetaan dasar laut. Setelah itu baru alat Ping Locator dan Remotely Operated Vehicles akan digunakan untuk

3. Magneto Meter atau alat deteksi logam.
Alat ini digunakan jika hasil tes yang di dapat oleh dua alat sebelumnya menunjukan indikasi adanya objek di dasar laut.


4. Ping Locator.
BPPT mengerahkan tiga unit Ping Locator untuk menemukan Kotak Hitam terkait dengan kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada Senin.

Ping Locator ini menerima sinyal akustik dari Black Box, sehingga lokasi Kotak Hitam dapat diketahui keberadaannya, untuk lebih lanjut akan diambil oleh tim penyelam," kata Kepala Seksi Sarana dan Prasaana Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT Ikhsan Budi Wahyono Ikshan dalam keterangan resminya,

5.Remote Operated Vehicle (ROV).
ROV adalah kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menampilkan gambar video secara langsung dari dasar laut. Dengan alat ini, pencarian sebuah objek di dasar laut akan lebih cepat dilakukan.

Untuk penggunaan Remotely Operated Vehicles (ROV) imbuhnya, akan diturunkan setelah sinyal black box ditemukan. Dengan alat ini, peneliti bisa melihat langsung gambar layout dasar laut.

"Kita akan menurunkan ROV untuk lebih memberi kejelasan visual, apa saja benda yang ada di dasar perairan tersebut. ROV ini langsung terhubung dengan monitor di Kapal, jadi bisa memberi panduan langkah-langkah evakuasi," tutur Ikhsan.

Kapal Baruna Jaya I memiliki jam terbang tinggi yang sering terjun untuk tindakan evakuasi ke lokasi bencana atau kecelakaan, Kapal ini juga turut membantu proses identifikasi Kapal Sinar Bangun di Perairan Danau Toba, pertengahan 2018 ini.

Selain itu kapal canggih BPPT ini baru saja kembali dari perairan Palu-Donggala dengan misi melakukan survei batimetri setelah bencana gempa dan tsunami dan mendalami fenomena.

Baruna Jaya I juga pernah terlibat dalam pencarian pesawat Adam Air 574 yang hilang pada Januari 2007 silam di barat laut Makassar. Pencarian kapal feri Baruga di Selat Sunda pada 2013, dan pencarian KM Gurita di Sabang pada 1996.

Kapal Baruna Jaya I sendiri angkat sauh pada Selasa (30/10) jam 02.00 WIB dari Dermaga Muara Baru, Jakarta Utara. Kapal itu tiba di Perairan utara Karawang pada pukul 05.00 WIB. (jnp/eks)