Oleh karena itu, Ketua Research Center for Climate Change (RCCC) Jatna Supriatna mengatakan para pemangku kebijakan tidak perlu menakuti lahan yang dijadikan konservasi.
Dia mengungkapkan konservasi selain untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati juga bisa menyumbang Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jatna kemudian memberikan contoh beberapa negara yang fokus menggarap bioekonomi seperti Malaysia, China, dan Ekuador.
"Di China konservasi bagus betul prinsip kelestariannya. Kenapa Indonesia tidak begitu. Harusnya membangun dengan prinsip ekologis itu menguntungkan. Malaysia bahkan fokus garap" kata Jatna
Kepulauan ini terkenal karena Charles Darwin menemukan teori seleksi alam berdasarkan penelitiannya di kepulauan ini. Kepulauan ini bahkan dinbobatkan sebagai Situs Warisan Unesco.
"Bayangkan Ekuador memanfaatkan konservasi. GDP terbesar dari pariwisata. GDP Ekuador 60 persen dari pariwisata. Karena Ekuador tempat Darwin menemukan Galapagos. Semua orang ingin ke sina," ujar Jatna.
Mengacu pada hal tersebut, Jatna mengklaim bisnis bioekonomi adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Jatna kemudian memberi contoh Taman Nasional di Amerika yang memberikan keuntungan besar bagi Amerika.
Menurut Jatna setidaknya Taman Nasional di Amerika menyumbang US$7 miliar atau sekitar Rp102 triliun dari pengunjung domestik. Angka ini belum termasuk pengunjung mancanegara.
"Amerika itu setiap orang boleh punya satu karcis masuk ke Taman-taman nasional selama satu tahun, itu US$70 dolar. Misalnya ada 100 juta orang dari 300 juta orang Amerika yang punya karcis, itu saja sudah miliaran dollar," kata Jatna. (jnp/age)