Peneliti: Konservasi Alam Bisa Tambah GDP Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 14:20 WIB
Peneliti: Konservasi Alam Bisa Tambah GDP Indonesia Ilustrasi. (REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti mengungkapkan konservasi bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Indonesia memiliki keindahan alam dan keberagaman hayati yang luar biasa yang memiliki nilai jual di sektor pariwisata.

Oleh karena itu, Ketua Research Center for Climate Change (RCCC) Jatna Supriatna mengatakan para pemangku kebijakan tidak perlu menakuti lahan yang dijadikan konservasi.

Dia mengungkapkan konservasi selain untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati juga bisa menyumbang Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.


"Konservasi itu bukan hal yang perlu ditakuti dan menjadi beban stake holder. Harusnya konservasi itu jadi profit center. Di situ ada bioekonomi," kata Jatna dalam konferensi pers di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (16/11).

Jatna kemudian memberikan contoh beberapa negara yang fokus menggarap bioekonomi seperti Malaysia, China, dan Ekuador.

"Di China konservasi bagus betul prinsip kelestariannya. Kenapa Indonesia tidak begitu. Harusnya membangun dengan prinsip ekologis itu menguntungkan. Malaysia bahkan fokus garap" kata Jatna

Jatna bahkan mengatakan 60 persen GDP Ekuador disumbang dari sektor pariwisata yang mengusung bioekonomi. Sebagai catatan, Ekuador memiliki kepulauan Galapagos.

Kepulauan ini terkenal karena Charles Darwin menemukan teori seleksi alam berdasarkan penelitiannya di kepulauan ini. Kepulauan ini bahkan dinbobatkan sebagai Situs Warisan Unesco.

"Bayangkan Ekuador memanfaatkan konservasi. GDP terbesar dari pariwisata. GDP Ekuador 60 persen dari pariwisata. Karena Ekuador tempat Darwin menemukan Galapagos. Semua orang ingin ke sina," ujar Jatna.

Mengacu pada hal tersebut, Jatna mengklaim bisnis bioekonomi adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Jatna kemudian memberi contoh Taman Nasional di Amerika yang memberikan keuntungan besar bagi Amerika.

Menurut Jatna setidaknya Taman Nasional di Amerika menyumbang US$7 miliar atau sekitar Rp102 triliun dari pengunjung domestik. Angka ini belum termasuk pengunjung mancanegara.

"Amerika itu setiap orang boleh punya satu karcis masuk ke Taman-taman nasional selama satu tahun, itu US$70 dolar. Misalnya ada 100 juta orang dari 300 juta orang Amerika yang punya karcis, itu saja sudah miliaran dollar," kata Jatna. (jnp/age)