Analisis

Akhir Perjalanan 'Le Cost Cutter' Carlos Ghosn

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 15:54 WIB
Akhir Perjalanan 'Le Cost Cutter' Carlos Ghosn Ghosn adalah orang Brasil keturunan Lebanon dengan kewarganegaraan Prancis. (Foto: Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Carlos Ghosn sudah tidak asing di telinga penggemar otomotif. Pria kelahiran Brasil pada 9 Maret 1954 ini sangat populer di industri otomotif, puncaknya ketika berhasil menggabungkan tiga besar perusahaan Renault-Nissan-Mitsubishi.

Namun Ghosn kini menghadapi masalah besar. Ia ditangkap otoritas Jepang pada Senin (19/11) malam, diduga memalsukan laporan pendapatan penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Kilas balik Ghosn sebagai pemimpin perusahaan patut diacungi dua jempol, sebab Ia sanggup menggabungkan tiga perusahaan berbeda kultur guna 'memerangi' produsen mobil global Volkswagen grup, Toyota dan GM.


Awal mula kesuksesan Ghosn dimulai pada 1981, saat Ghosn menjadi manajer di bagian manufaktur ban Michelin di Le Puy, Prancis. Kariernya terus menanjak naik dan dipercaya sebagai Head of RnD Michelin, Prancis pada 1984.

Sampai akhirnya Michelin memutuskan ingin berekspansi ke Brasil. Pemilik Michelin, Francois Michelin tak ambil pusing, ia menunjuk Ghosn sebagai Chief Operating Officer Michelin, Brasil pada 1985.

Usaha Ghosn membuahkan hasil setelah beberapa tahun belajar strategi finansial perusahaan ban Michelin. Ghosn pun berhasil meningkat pendapatan perusahaan dan menjadikan Michelin salah satu pabrik ban paling sukses di Brasil.

Francois yang melihat gairah Ghosn di industri pemasok otomotif semakin tinggi, kemudian mempercayakan Ghosn memimpin perusahaan yang diakuisisi oleh Michelin, perusahaan ban lokal Uniroyal Goodrich pada 1990.

Ghosn kembali berhasil menemukan masalah-masalah inti perusahaan ban. Dengan kecerdasannya, Ghosn sukses mengelola dua perusahaan dan meningkatkan efisiensi kerja. Cara kerja Ghosn ini membuat dirinya dijuluki "The Cost Cutter" atau si pemangkas biaya produksi.

Sejak saat itu, Ghosn mulai dilirik perusahaan otomotif. Ghosn pun tergoda mendapat tawaran menggiurkan dari Renault. Ghosn pun menerima dan menjabat sebagai Executive Vice President Renault pada 1996.

Tiga tahun kemudian Renault berkeinginan menggandeng manufaktur otomotif lain. Pilihan pun jatuh pada Nissan Motor Co. Ghosn pun ditunjuk sebagai Chief Operating Officer Nissan pada 1999 dan mengambil alih sebagai CEO pada 2002.

Afiliasi Renault-Nissan untuk menghasilkan produk-produk 'terjangkau'. Ghosn pun menggiring kedua perusahaan untuk menghasilkan produk rebadge yang berbagi platform. Nissan pun optimis bisa mendongkrak citranya setelah kolaborasi dengan Renault.

Hal ini tak berlebihan rasanya jika Ghosn dianggap 'superman' di industri otomotif global. Ghosn mampu membuat semi merger dua perusahaan otomotif Jepang dan Prancis.

Seakan haus kekuasaan, Ghosn ingin menggabungkan tiga perusahaan otomotif yang belakang disebut 'mega merger'. Pilihan pun jatuh pada Mitsubishi.

Mitsubishi perusahaan otomotif kedua yang ia 'selamatkan' saat itu berada dalam situasi tidak nyaman. Penjualan Mitsubishi anjlok di sejumlah negara, bahkan dalam satu tahun merek otomotif Jepang ini tak mampu menjual 1 juta unit mobil di dunia.

Menurut Ghosn, ia berhasil menyelamatkan Mitsubishi dari keterpurukan.

"Saya akan mendedikasikan sedikit waktu saya untuk mengarahkan Mitsubishi kembali ke perkembangan normal dan mendukung tim mereka," kata Ghosn kepada Business Insider.

Pada Oktober 2016, Nissan mengakuisisi 34 persen saham Mitsubishi Motors. Produk yang bisa diandalkan dari afiliasi di masa mendatang adalah mobil keluarga berdaya tampung tujuh penumpang.

"Ketika kesempatan datang, karena beberapa keadaan yang tidak menguntungkan mengenai Mitsubishi Motors, untuk melibatkan mereka di dalam aliansi, kami yakin itu bisa menguntungkan. Ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba," ucap Ghosn.

"Ini adalah perusahaan tempat kami bekerja. Jadi sangat cepat kami berkata ya, mengetahui bahwa kami akan mengembangkan banyak model dengan mereka."

Di bawah kendali Ghosn, Renault-Mitsubishi-Nissan mampu memproduksi sekitar 10,6 juta mobil secara global. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)Di bawah kendali Ghosn, Renault-Mitsubishi-Nissan mampu memproduksi sekitar 10,6 juta mobil secara global. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Namun kapal megah Ghosn harus karam setelah dirinya ditangkap terkait dengan dugaan kasus merugikan perusahaan.

Lebih dari itu, penangkapan Ghosn disebut akibat kongsi dari pihak Nissan yang geram dengan rencana Ghosn untuk mengubah strategi bisnis Renault-Nissan di dunia.

Ini belum termasuk kecemburuan melihat Ghosn menerima miliran rupiah dalam satu tahun dari tiga perusahaan berbeda. Telegraphindia.com menyiarkan pria berusia 64 tahun itu membawa pulang cek pembayaran yang besar dan terpisah dari masing-masing perusahaan.

Pada Juni 2018, Ghosn menerima tunjangan US$8,5 juta (Rp123 miliar) dari Renault untuk kalender 2017. Kemudian ia menerima US$9,7 juta (Rp141 miliar) dari Nissan untuk financial year berakhir pada Maret 2017. Ghosn juga menerima US$2 juta (Rp29 miliar) berdasarkan laporan terakhir Mitsubishi.

CEO Nissan Hiroto Saikawa yang telah menjadi anak didik Ghosn tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dalam konferensi pers pada Senin (19/11). Namun di balik kemarahannya, Ia mengakui sosok penting Ghosn bagi perusahaan. Menurutnya Ghosn telah mencapai apa yang tidak banyak orang lain bisa lakukan.

"Kami sangat menyesal dan menyesali pengkhianatan dari orang kepercayaan," katanya.

Di bawah kendali Ghosn, Renault-Mitsubishi-Nissan mampu memproduksi sekitar 10,6 juta mobil secara global, menempatkannya setara dengan pabrikan otomotif raksasa lain seperti Volkswagen, Toyota dan GM.

Dalam enam bulan pertama 2018, gabungan tiga perusahaan itu telah memproduksi 5,5 juta kendaraan, menempatkannya dalam posisi untuk menjadi manufaktur otomotif teratas di dunia.

Terlepas dari kasusnya, karier Ghosn sangat luar biasa. Ia mencapai titik kesuksesan dengan taktik 'cerdik' yang tak banyak bisa dilakukan oleh pemimpin perusahaan otomotif lain.

Ghosn adalah orang Brasil keturunan Lebanon dengan kewarganegaraan Prancis yang sukses memainkan peran sebagai 'The Godfather' di industri otomotif dunia selama lebih dari dua dekade. (mik)