IDC Ungkap Semakin Banyak Perusahaan 'Melek' Digital

CNN Indonesia | Sabtu, 24/11/2018 03:27 WIB
IDC Ungkap Semakin Banyak Perusahaan 'Melek' Digital Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Managing Director IDC ASEAN, Sudev Bangah mengungkapkan bahwa saat ini ada 65 persen perusahaan di Asia Pasifik yang tengah berupaya keras mentransformasi bisnis yang 'melek' digital untuk mengikuti gaya kerja pegawainya, khususnya generasi milenial.

Upaya transformasi bisnis bisa terlihat belanja teknologi perusahaan yang terus meningkat.

"Belanja teknologi dan layanan di Asia Pasifik untuk memungkinkan operasi bisnis, metode dan solusi bisnis kira-kira telah mencapai US$386 miliar di 2018. Angka itu tercatat naik 15,3 persen dibanding 2017," jelas Sudev di Jakarta, Kamis (23/11).


Sudev menjelaskan hal serupa juga terjadi di Indonesia. IDC memperkirakan 40 persen perusahaan di Indonesia akan berubah menjadi perusahaan digital di 2021. Digitalisasi bisnis memungkinkan perusahaan mengeksplorasi kecerdasan buatan, rovot, dan internet of things (IoT) di Indonesia.

Hanya saja, Sudev mengatakan transformasi ini bukan berarti mudah. IDC melaporkan pada 2015-2016 saja ada 70 persen perusahaan yang berencana berinvestasi untuk big data dan analytics. Angka itu turun pada 2016-2917 menjadi hanya 40 persen.

"Hal itu terjadi karena dulu belum terlalu baik pemahaman terhadap big data dan analisis sehingga banyak yang gagal. Kini setelah mereka gagal, mereka investasi lagi. Pada 2018 ke depan, kami melihat angkanya kembali ke 70 persen," lanjutnya.

Proyeksi tersebut menurut Sudev diungkap melihat pada pemahaman perusahaan Indonesia yang kian menganggap penting big data dan analytics bagi perusahaan yang ingin 'naik level'. Tak mengherankan jika mereka akan kembali berinvestasi di sektor tersebut.

Tahun ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia dilaporkan mengucurkan dana untuk transformasi model operasional sebesar 57 persen, jalur bisnis 22 persen, informasi 12 persen, tempat kerja dan kepemimpinan 3,5 persen.

Sementara untuk periode 2019 hingga 2021, Indonesia diprediksi akan berbelanja teknologi sebesar US$35 ribu - US$40 ribu.

Tantangan bagi perusahaan

Eddie Ang, Excecutive Director, Entreprise Business Lenovo Central Asia Pacific menjelaskan upaya transformasi digital bukan berarti tanpa tantangan. Sebelum bertransformasi, Ang mengatakan pekerja harus lebih dulu dibekali teknologi dan kemampuan untuk menjalankannya.

"Jalan untuk memberikan pengalaman pelanggan terbaik dan mendapatkan nilai bisnis harus dimulai dengan meningkatkan pengalaman pegawai. Berinvestasi di teknologi seperti Device as a Serivice, AI dan AR akan membantu perusahaan untuk menciptakan tempat kerja yang lebih cerdas, aman dan produktif serta kolaboratif," ujar Ang di kesempatan yang sama.

Disamping itu, tak bisa dipungkiri jka ada perbedaan preferensi bekerja antara satu pegawai dengan lainnya. Setiap pekerja juga memiliki perangkat atau aplikasi kesukaan dalam menyelesaikan tugas.

"Perusahaan tidak bisa lagi menyeragamkan alat kerja mereka atau memaksakan produk untuk digunakan milenial. Itu bukan cara milenial bekerja. Namun, ada celah kerentanan dari preferensi alat dan produk yang digunakan oleh setiap pegawai," imbuhnya.

Proyeksi ini dilakukan seiriing dengan riset yang diselenggarakan Lenovo dan IDC selama Oktober 2018. Dalam riset bertajuk 'Powering Intelligent Transformation' melibatkan setidaknya 1.097 perusahaan di Asia Pasifik dan mewawancarai 384 perusahaan di delapan sektor di Indonesia.

Riset yang sama juga memprediksi bahwa sebanyak 25 persen dari proses pengembangan dan operasional perusahaan akan terotomatisasi sehingga meningkatkan 15 persen produktivitas IT dan membutuhkan IT untuk mendefinisikan ulang kemampuan serta mengatur pekerja digital. (kst/evn)


BACA JUGA