Ratusan Pegawai Google Tolak Proyek Pencarian Khusus di China

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 15:17 WIB
Ratusan Pegawai Google Tolak Proyek Pencarian Khusus di China Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Stephen Lam)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan karyawan Google menolak keputusan perusahaan yang akan meluncurkan mesin pencarian khusus untuk diluncurkan di China. Proyek yang bernama Dragonfly terebut dikabarkan bakal dibekali sistem penyensoran dan justru berpotensi menjadi alat pengintaian.

"Banyak dari kami bekerja di Google karena memiliki kemampuan, termasuk posisi Google sebelumnya mengenai penyensoran dan pengintaian. Kami memahami bahwa Google lebih memntingkan nilai perusahaan ketimbang keuntungan," tulisa karyawan dalam petisi penolakan proyek Dragonfly di situs Medium.

Kekecewaan karyawan terhadap perusahaan seakan menjadi buntut lanjutan sebelumnya dari serangkaian kejadian, mulai dair proyek Maven, dukungan Google pada pelaku pelecehan seksual, hingga nilai perusahaan yang dianggap tak lagi penting.


Para karyawan menekankan bahwa petisi dibuat bukan lantaran China sebagai negara, tetapi karena mereka tak setuju jika Google membantu adanya pemberian kekuatan lebih pada penguasa yang dianggap melawan kaum lemah di mana pun mereka berada.

Hanya dalam beberapa jam saja, petisi terebut telah ditandatangani oleh ratusan pegawai Google.

ABC melaporkan juru bicara Google menolah untuk memberikan komentar terkait surat terbuka itu. Namun, perusahaan yang berbasis di Silicon Valley, California ini mengatakan bahwa proyek Dragonfly masih diekplorasi dan peluncuran produk tersebut masih jauh.

"Peluncuran produk di China tidak dalam waktu dekat," ungkapnya.

Sejak diketahui menggarap proyek khusus untuk China, Google telah menuai protes dari kelompok pejuang hak asasi manusia dan sejumlah politisi AS. Proyek Dragonfly pertama kali dilaporkan oleh The Intercept yang memuat rincian tentang upaya internal perusahaan pada musim panas ini.

Sebelumnya pada Agustus lalu, ribuan karyawan Google menandatangani surat yang memuat permasalahan modal dan etika. CEO Sundar Pichai menggapi surat tersebut dengan mengatakan secara terbuka bahwa perusahaan masih dalam tahap 'sangat awal' untuk mengembangkan proyek itu.

Namun dia mengatakan eksperimennya menemukan bahwa proyek ini dapat "melayani lebih dari 99 persen" permintaan pencarian di China. Sementara itu, Kepala Alphabet John Hennessy mengatakan pekan lalu bahwa berbisnis di China akan mengorbankan "nilai inti" perusahaan.

Google sebenarnya sudah menarik layanan pencariannya dari China pada 2010 lantaran meningkatnya kekhawatran mengenai serangan siber dan penyensoran.

Sejak saat itu, pemerintah China kian memperketat batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga negaranya dengan memasukkan situs-situs dan akses ke informasi mengenai peristiwa bersejarah tertentu, seperti protes 1989 di Lapangan Tiananmen yang mengharuskan orang untuk menggunakan forum daring dengan mendaftar identitas asli mereka.

Aplikasi pencarian Google China dilaporkan akan memenuhi tuntutan pemerintah lokal untuk menghapus konten yang dianggap sensitif oleh pemerintah. Layanan ini nantinya juga akan terhubung dengan nomr ponsel pribadi pengguna.

Di sisi lain, sejumlah kritikus menilai keputusan Google untuk mau bekerja sama dengan pemerintah China menunjukkan bahwa perusahaan telah melanggar prinsip kebebasan berekspresi serta hak privasi pengguna. (jnp/evn)