Puteri Pendiri Huawei Ditangkap di Kanada

CNN Internasional, CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 15:48 WIB
Puteri Pendiri Huawei Ditangkap di Kanada Ilustrasi. (REUTERS/Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chief Financial Officer (CFO) Huawei Meng Wanzhou atau Sabrina Meng ditangkap di Kanada dan akan menjalani ekstradisi ke Amerika Serikat. Dilansir dari CNN, Juru Bicara Departemen Kehakiman Kanada Ian McLeod mengungkapkan Meng ditahan di Vancouver, Sabtu lalu (1/12).

Selain CFO, Meng juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Huawei dan dia adalah puteri pendiri Huawei, Ren Zhengfei.

McLeod mengatakan Departemen Kehakiman Kanada tidak dapat berbagi rincian kasus ini. Meng diberikan larangan publikasi setelah hakim setuju untuk melarang polisi dan jaksa merilis informasi tentang kasus ini.


Seorang juru bicara Huawei mengatakan Meng ditahan oleh pihak berwenang Kanada atas nama Amerika Serikat. Menurutnya saat ini Huawei tengah menghadapi tuntutan terkait pelanggaran sanksi AS terhadap Iran di AS.
"Perusahaan telah memberikan sedikit informasi mengenai tuduhan tersebut dan tidak mengetahui adanya kesalahan yang dilakukan oleh Meng," kata juru bicara itu.

"Perusahaan percaya bahwa sistem hukum Kanada dan AS pada akhirnya akan mencapai kesimpulan yang adil. Huawei mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku dimana kami beroperasi, termasuk kontrol ekspor dan sanksi hukum yang berlaku dan peraturan dari PBB, AS dan Uni Eropa," tambah juru bicara tersebut.

Juru bicara Kedutaan China di Kanada menganggap penangkapan ini sebagai kesalahan dan meminta Amerika Serikat dan Kanada membebaskan Meng Wanzhou.

"Kami akan terus mengikuti perkembangan masalah ini dan mengambil semua langkah untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sah warga negara China," kata pernyataan itu.

Saat ini, AS dan banyak negara dunia tengah meningkatkan pengawasan terhadap Huawei dan semua perusahaan China yang menjual smartphone dan peralatan telekomunikasi.
Para pejabat di AS telah memberi peringatan adanya risiko keamanan jika menggunakan produk Huawei. Amerika Serikat khawatir bahwa pemerintah China dapat menggunakan teknologi jaringan Huawei untuk memata-matai orang Amerika.

Mei lalu, Pentagon memerintahkan toko-toko di pangkalan militer Amerika untuk menghentikan penjualan ponsel pintar buatan Huawei dan pesaingnya, ZTE.

Februari lalu, pejabat tinggi dari CIA, NSA, FBI, dan Badan Intelijen Pertahanan mengatakan kepada komite Senat bahwa smartphone perusahaan-perusahaan itu menimbulkan ancaman keamanan bagi pelanggan Amerika.

Pemerintahan Trump juga meluncurkan kampanye besar-besaran untuk mendesak sekutu AS berhenti menggunakan peralatan telekomunikasi Huawei seperti dilansir Wall Street Journal.
Selama beberapa minggu terakhir, Selandia Baru dan Australia telah mencegah perusahaan telekomunikasi menggunakan peralatan Huawei untuk jaringan seluler 5G mereka.

Rabu lalu, perusahaan telekomunikasi Inggris British Telecom mengatakan bahwa mereka tidak akan membeli peralatan dari perusahaan teknologi China untuk inti dari jaringan nirkabel generasi berikutnya. Perusahaan juga mengatakan akan menghapus teknologi Huawei yang ada dari jantung jaringan 4G dalam waktu dua tahun.

Huawei mengatakan kepada CNN Business bulan lalu bahwa peralatannya dipercaya oleh pelanggan di 170 negara dan oleh 46 dari 50 perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia.

"Jika perilaku pemerintah melampaui yurisdiksinya, aktivitas seperti itu tidak boleh didorong," kata perusahaan itu.

"Huawei dengan tegas percaya bahwa mitra dan pelanggan kami akan membuat pilihan yang tepat berdasarkan penilaian dan pengalaman mereka sendiri bekerja dengan Huawei."

Saingan Huawei, ZTE, juga menghadapi tuduhan transaksi ilegal dengan Iran. Pada April, Amerika Serikat memblokir ZTE untuk membeli komponen AS. Pemerintahan Trump mengatakan bahwa ZTE telah berbohong kepada pejabat AS tentang menghukum karyawan yang melanggar sanksi AS terhadap Korea Utara dan Iran.

Tetapi administrasi Trump mencabut larangan ekspor pada ZTE pada Juli setelah mencapai kesepakatan dengan perusahaan.

[Gambas:Video CNN] (age)