Pasalnya, kesemrawutan di wilayah ini akibat pengemudi taksi dan ojek online terbilang cukup parah. Puluhan motor yang ditumpangi orang-orang yang memakai jaket hijau pengojek online berjejer di bahu jalan. Bahkan ada juga yang memarkir motor di atas trotoar. Mereka menunggu sembari menanti ponsel berbunyi tanda mendapat pesanan.
Seakan tak terusik dengan kemacetan jalan, para pengemudi taksi online ini berjejer di seberang Mall Ambasador. Beberapa terlihat santai di dalam mobil sembari menatap aplikasi transportasi online di layar ponsel mereka berharap mendapat order.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelakuan para pengemudi dulu ojek online ini sempat menjanjikan agar pengemudi tidak perlu lagi mangkal di pinggir jalan raya. Mereka bisa mencari orderan cukup dari rumah. Tapi kenyataannya, para pengemudi ojek ini mesti mencari tempat strategis jika ingin mendapat pendapatan yang bagus.
Masalah ojek mangkal ini sudah jadi masalah klasik. Sejak 2015 lalu, Kadishubtrans DKI Andri Yansyah telah mengeluhkan masalah ojek mangkal yang kerap menimbulkan kemacetan.
Ojek online yang mangkal di pinggiran jalan Sudirman (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Alasan pengemudi
Namun, para pengemudi ini memiliki alasan tersendiri mengapa mereka terpaksa mangkal di bahu jalan.
Saya mencoba menghampiri salah satu pengemudi ojol yang ada di bahu jalan. Namun, ketika ditanya mereka menunjukkan sikap kurang bersahabat.
"Bang kenapa kok mangkal di pinggir jalan begini? Bikin macet saja, bukannya di Kuncit ada selter," tanya saya.
Selain dinilai lebih repot, selter yang bisa digunakan untuk menampung gojek ini pun masih sangat sedikit. Saat ini Grab baru memiliki 91 selter, dan dua GrabBike Lounge, dan ratusan driver stop. Sementara Gojek tak buka suara soal jumlah selter mereka ketika dikonfirmasi.
Padahal menurut pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan Pemprov DKI Jakarta sudah menyediakan lahan-lahan parkir yang digunakan untuk membangun selter.
Namun, pihak Grab dan Gojek masih belum merespons terkait ketersediaan lahan untuk selter dari pemerintah ini.
Aplikator serakah
Ilustrasi. Perekrutan ojek online yang tidak dibatasi dituding jadi salah satu penyebab kesemerawutan kota akibat ojek yang mangkal sembarangan. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Seiring berjalannya waktu dan mengacu pada basahnya pendapatan ojol, profesi ini malah juga diminati oleh seluruh orang, tak hanya yang dari awal berprofesi sebagai ojek.
Djoko mengatakan langkah ekstrim harus dilakukan. Pasalnya apabila terus diberi angin atau celah, maka pelanggaran akan terus terjadi.
"Tidak bisa, orang seperti ini tidak bisa diedukasi lagi, susah. Jakarta itu ya harus cara keras, karena cara hidupnya keras. Kalau sudah begitu mereka bisa tertib," kata Djoko.
Perlu tindakan tegas
Alasan kepraktisan membuat mereka tak peduli dengan kesulitan yang dialami pengguna jalan lainnya. Padahal Tigor menyebut kelakuan para pengemudi transportasi online ini merampas hak sesama pengguna jalan.
"Ini kota harus mau diatur, kalau tidak mau jangan di Jakarta. Jangan bikin semrawut di Jakarta. Kalau soal cari makan semua cari makan, jadi harus dibina agar tidak sembarangan. Kadang-kadang lebih galak mereka kalau dikasih tahu kalau mereka tidak boleh mangkal begitu," ujar Tigor saat dihubungi terpisah, Kamis (6/12).
Pengamat menilai perlu adanya tindakan tegas agar masalah ojek mangkal sembarangan tidak berlanjut. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Senada dengan Tigor, Djoko juga setuju agar aplikator menindak tegas ojol yang masih bandel mangkal di pinggir jalan.
Tigor mengatakan ojol yang mangkal di pinggir jalan melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Tibum). Untuk itu ia mengimbau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk bertindak tegas.
"Pemprov harus tegas, itu sudah melanggar Perdatibum Jakarta. Harus ditangkapi para pelanggar ini dengan razia dan operasi yang berkoordinasi dengan kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta," ujar Tigor.
"Razia mereka yang sembarangan dan panggil aplikator dan minta tertibkan para pengemudi ini. Bikin Satgas kek, blokir kek, meeting point juga perbanyak. Pokoknya bebas aplikator mau bagaimana menindak mitra. Harus tegas dan jadi contoh agar ada efek jera" ujar Tigor.
Jika masalah terus berlanjut, Pemprov bisa mengirimkan surat peringatan hingga tiga kali. Kemudian apabila terus menjadi masalah, Pemprov bisa membuat surat aduan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir aplikasi Gojek atau Grab. (eks)
Ojek online yang mangkal di pinggiran jalan Sudirman (CNN Indonesia/Safir Makki)
Ilustrasi. Perekrutan ojek online yang tidak dibatasi dituding jadi salah satu penyebab kesemerawutan kota akibat ojek yang mangkal sembarangan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Pengamat menilai perlu adanya tindakan tegas agar masalah ojek mangkal sembarangan tidak berlanjut. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)