Peneliti Kritik Jokowi Abaikan Penelitian Situs Gunung Padang

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 16:42 WIB
Peneliti Kritik Jokowi Abaikan Penelitian Situs Gunung Padang Ilustrasi situs Gunung Padang. (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti mengeluhkan tidak adanya perhatian dari pemerintah Joko Widodo terhadap penelitian Gunung Padang di Garut, Jawa Barat. Padahal berdasarkan penelitian, lapisan tertua situs tersebut diperkirakan berusia 10 ribu tahun atau berasal dari 8 ribu tahun Sebelum Masehi (SM).

"Saat ini penelitian di Gunung Padang terbengkalai. Pemerintah kayaknya cuek-cuek saja. Padahal setahu saya sudah ada Perpres, Permen dari Kemendikbud di tahun 2014 untuk meneruskan penelitian dan pemugaran," jelas Dr Danny Hilman Natawijaya, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, saat dihubungi via sambungan telepon (7/12). 

Aturan yang dimaksud berdasarkan Perpres nomor 148 tahun 2014 tentang Pengembangan, Pelindungan, Penelitian, Pemanfaatan, dan Pengelolaan Situs Gunung Padang.


"Semestinya jika sudah ada Perpres ini kan dilanjutkan oleh pemerintahan selanjutnya. Karena Perpresnya masih aktif, belum dicabut," lanjutnya.

Gunung Padang situs megalitikum yang sudah dikenal sejak abad 19. Namun, masyarakat mengenalnya sebagai situs megalitikum biasa yang ada di puncak gunung. Namun, ketika Danny berkunjung ke sana ia curiga bahwa ada struktur bangunan di bawah situs tersebut. Berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, disimpulkan bahwa ada struktur bangunan di bawah situs megalitik tersebut.

Sebelumnya, penelitian situs Gunung Padang sempat mendapat dukungan untuk melakukan penggalian di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, sempat ada suara-suara sumbang yang saat itu tidak setuju kalau di bawah situs tersebut terdapat struktur bangunan. Sebagian menyebut struktur di bawah gunung padang hanyalah gunung tua yang sudah tidak aktif.

Untuk mendapat pengakuan dunia, Danny yang mengaku menjadi Ketua Koordinator Penelitian Gunung Padang itu akan mempropagandakan situs langka itu di acara dunia. Ia akan melakukan pemaparan mengenai hasil penelitian mereka di forum peneliti dunia AGU Fall Meeting di Washington DC, Minggu (9/12). 

"Pemaparan ini sebagai bentuk publikasi ilmiah untuk mempropagandakan situs langka di Indonesia kepada dunia [...] Nasibnya agak terkatung-katung kurang diperhatikan," lanjutnya lagi.

Setelah publikasi ilmiah ini menurut Danny nantinya akan disusul dengan pembuatan jurnal ilmiah formal. Jurnal tersebut dibuat berdasarkan pengerjaan penelitian penggalian di lapangan yang sudah dilakukan pada 2011 hingga 2014. (eks/evn)