China Tuding AS Mengarang Soal Gugatan Atas Kasus Peretasan

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 14:27 WIB
China Tuding AS Mengarang Soal Gugatan Atas Kasus Peretasan Ilustrasi peretasan. (Foto: REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- China menuding pemerintah AS 'mengarang fakta' soal tuduhan peretasan menyusul gugatan yang dilayangkan kepada dua warga negaranya. Washington menuding kedua peretas memiliki kaitan dnegan pasukan keamanan pemerintah China dan kerap melakukan serangan siber terhadap instansi dan perusahaan di belasan negara.

"Kami mendesak AS menuduh China terkait masalah keamanan siber. AS harus mencabut gugatannya untuk menghindari kerusakan serius pada hubungan kedua negara," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (21/12).

Dalam pernyataan itu, Beijing menuturkan pemerintah juga telah mengajukan nota protes resmi terhadap Washington terkait hal ini.


China menuduh AS mengkambing hitamkan negaranya, padahal Negeri Paman Sam juga kerap melakukan serangan siber ke negara lain.

"Sudah menjadi rahasia umum sejak lama bagi sejumlah kementerian AS terkait melakukan pencurian jaringan siber skala besar dan terorganisir," papar Kemlu China.

"(Kementerian AS tersebut) juga kerap melakukan pemantauan dan memata-matai kegiatan pemerintah, perusahaan, hingga individu asing."

Pernyataan tersebut diutarakan China menyusul keputusan Kementerian Kehakiman AS yang mendakwa dua peretas asal China beberapa waktu lalu. AS menuduh keduanya bekerja untuk perusahaan-perusahaan yang membantu perusahaan lain mengelola sistem teknologi informasi mereka.

Mengutip AFP, AS menganggap pekerjaan keduanya berpotensi memberi peluang peretas masuk ke jaringan komputer belasan perusahaan.

Selain Rusia, China menjadi salah satu negara yang kerap dituding menjadi dalang operasi peretasan oleh negara-negara Barat. Selain AS, Inggris dan Australia juga telah lama menuding China melakukan serangan siber terhadap negara mereka.

Sementara itu, Beijing menganggap tudingan yang diarahkan 'murni tuduhan tanpa bukti'. China juga memperingatkan agar 'negara lain untuk setop menista negara kami agar tidak merusak hubungan bilateral antar-negara'. (rds/evn)