BPPT Minta Peran Publik Jaga Buoy Tetap Berfungsi

CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 10:00 WIB
BPPT Minta Peran Publik Jaga Buoy Tetap Berfungsi Ilustrasi buoy. ( Istockphoto/Augustine Fernandes )
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai peran publik dalam menjaga buoy sangat penting dalam sistem peringatan dini bencana. Beberapa tahun belakangan, wilayah pesisir Indonesia terpaksa tak punya buoy karena alat peringatan tsunami itu hilang atau dirusak.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya ALam (TPSA) BPPT Hammam Riza mengatakan wilayah di sekitar buoy biasanya memang penuh dengan ikan, sehingga menarik para nelayan untuk memancing disekitarnya. Dia berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi.

"Publik harus semakin peduli terhadap pentingnya teknologi untuk membangun early warning system yang handal, seperti buoy ini. Jika buoy sudah ada, kepada masyarakat dihimbau agar perlunya menjaga bersama, karena ini alat yang dibangun negara supaya kita tetap selamat," ujarnya pada Senin (31/12).


BPPT menerangkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan upaya agar alat tersebut aman berada di laut lepas demi memberikan data penting terkait bencana. Namun, pihaknya tidak merinci apa saja upaya tersebut.

Dia melanjutkan terlepas dari potensi vandalisme, hilang atau dicuri, BPPT menyatakan buoy penting untuk dibangun. Dia menegaskan bahwa bouy punya urgensinya tinggi untuk melengkapi pemodelan yang digunakan sebelumnya dalam sistem peringatan dini tsunami.

Data dari buoy, yang dipasang hingga 100-200 kilometer dari pantai, dapat mengirimkan informasi data terkini ketika ada gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami muncul.

Masyarakat yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana butuh peringatan untuk memberikan waktu 10-15 menit mengevakuasi diri.

"Masyarakat di pesisir atau wilayah berpotensi tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini yang handal, dalam hal ini ya buoy disertai teknologi lain seperti kabel bawah laut, maupun pemodelan sebelumnya," kata Hammam.

Sebelumnya, BPPT menyatakan bahwa pihaknya siap membangun sistem peringatan dini tsunami yakni buoy dan Cable Based Tsunameter (CBT). Kendati demikian, pihaknya mengakui bahwa pembangunan, operasional dan perawatan sistem peringatan dini tsunami membutuhkan anggaran khusus yang tidak murah.

Menurut Hammam, revitalisasi satu unit buoy berikut pemasangan dan pemeliharaan diperkirakan bisa menghabiskan dana sebesar Rp 5 miliar.

"Revitalisasi ini ya kita oprek lagi buoy yang dahulu sudah rusak akibat vandalisme. Kita gunakan panel tenaga surya untuk sumber tenaganya, serta kita upayakan semua sensornya lengkap kembali," kata dia.

"Butuh waktu, semoga dengan adanya dana khusus bisa lebih cepat prosesnya hingga pemasangan," pungkasnya. (kst/age)