Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya ALam (TPSA) BPPT Hammam Riza mengatakan wilayah di sekitar buoy biasanya memang penuh dengan ikan, sehingga menarik para nelayan untuk memancing disekitarnya. Dia berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi.
"Publik harus semakin peduli terhadap pentingnya teknologi untuk membangun early warning system yang handal, seperti buoy ini. Jika buoy sudah ada, kepada masyarakat dihimbau agar perlunya menjaga bersama, karena ini alat yang dibangun negara supaya kita tetap selamat," ujarnya pada Senin (31/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia melanjutkan terlepas dari potensi vandalisme, hilang atau dicuri, BPPT menyatakan buoy penting untuk dibangun. Dia menegaskan bahwa bouy punya urgensinya tinggi untuk melengkapi pemodelan yang digunakan sebelumnya dalam sistem peringatan dini tsunami.
Masyarakat yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana butuh peringatan untuk memberikan waktu 10-15 menit mengevakuasi diri.
"Masyarakat di pesisir atau wilayah berpotensi tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini yang handal, dalam hal ini ya buoy disertai teknologi lain seperti kabel bawah laut, maupun pemodelan sebelumnya," kata Hammam.
Menurut Hammam, revitalisasi satu unit buoy berikut pemasangan dan pemeliharaan diperkirakan bisa menghabiskan dana sebesar Rp 5 miliar.
"Revitalisasi ini ya kita oprek lagi buoy yang dahulu sudah rusak akibat vandalisme. Kita gunakan panel tenaga surya untuk sumber tenaganya, serta kita upayakan semua sensornya lengkap kembali," kata dia.
"Butuh waktu, semoga dengan adanya dana khusus bisa lebih cepat prosesnya hingga pemasangan," pungkasnya. (kst/kst/age)