Namun sejak pemerintah Amerika Serikat memberlakukan perang dagang dengan China, perusahaan nuklir itu terpaksa mencari rekanan baru. Gates pun menulis dalam esai publik akhir pekan lalu bahwa TerraPower sepertinya tidak akan melanjutkan rencana dengan perusahaan China itu akibat embargo pemerintah.
Perusahaan yang berbasis di Washington itu kini tak yakin negara mana yang akan dijajaki untuk menguji teknologi nuklir mereka yang baru. Teknologi baru ini dirancang untuk menggunakan uranium yang telah dipakai sebagai bahan bakar untuk reaktor nuklir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mungkin bisa mencari rekanan lain," jelas Chief Executive Chris Levesque, seperti dikutip Reuters.
Untuk itu Gates akan mencoba bernegosiasi dengan pemerintah AS agar negara itu bisa kembali menjadi pemimpin riset teknologi nuklir. Menurut Gates sudah 50 tahun berlalu sejak terakhir AS memimpin teknologi nuklir.
"Dunia perlu berusaha menghentikan perubahan iklim," tulis Gates dalam suratnya. "(Teknologi) nuklir yang lebih canggih adalah salah satunya dan saya harap bisa membujuk pemimpin AS untuk ikut serta dalam permainan ini."
Prancis berada di posisi dua dengan 58 reaktor dan China ditempat ketiga dengan 46 reaktor. Namun, perpetaan ini segera berubah karena China tengah membangun 13 reaktor baru, sementara AS hanya membangun 2 reaktor baru, seperti ditulis GeekWire. (eks/eks)