Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan aplikasi tersebut sudah ada sejak 2017 tapi sepanjang 2018 aplikasi tersebut pun terus dikembangkan. Dia juga telah berkoordinasi dengan BNPB dan Kemenristekdikti terkait aplikasi tersebut.
Rencananya, aplikasi itu akan dipatenkan 2019 tetapi belum diketahui pasti kapan waktu peluncuran akan dilakukan. Aplikasi untuk deteksi gempa berpotensi tsunami itu pun masih memiliki nama sementara yaitu Winarah Lindu. Nama tersebut masih dapat berubah nantinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gempa berpotensi tsunami, Eko menjelaskan, biasanya berskala di atas 6,5 SR dan guncangan dengan waktu 60 detik. Maka itu pada aplikasi tersebut akan diatur lama guncangan selama 60 detik.
"Potensi tsunami adalah dia bisa benar-benar memicu tsunami bisa juga tidak. Tapi kan kalau alat seperti itu tidak ada maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan masyarakat yang realtime tsunaminya pendek setiap gempa harus lari sehingga lama-lama mereka cape dan pasrah," tuturnya.
Namun, Eko mengatakan karena gempa tersebut frekuensinya terbilang rendah menyebabkan guncangannya sangat lemah. Hal tersebut dinilainya sangat berbahaya.
"Ini sangat berbahaya ketika seperti di Mentawai 2010 ini, kejadiannya malam hari sedang hujan sehingga guncangan ini tidak membangunkan masyarakat. Alat ini dapat merekam guncangan itu sehingga berbunyi," ucapnya.
Dengan aplikasi ini, kata Eko, masyarakat dapat mengetahui gempa yang berpotensi tsunami. Alarm yang akan bunyi ketika guncangan terjadi melebihi satu menit menjadi salah satu petunjuk masyarakat untuk menyelamatkan diri dari potensi tsunami. (gst/gst/age)