LIPI Tawarkan Alat Pendeteksi Tsunami, Lebih Irit dari Buoy

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 20:16 WIB
LIPI Tawarkan Alat Pendeteksi Tsunami, Lebih Irit dari Buoy Kerusakan pascatsunami di Banten. (Foto: CNNInndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menawarkan alternatif alat pendeteksi tsunami yakni laser tsunami sensor (LTS) yang diklaim lebih baik dan awet daripada penggunaan buoy (pelampung). Penggunaan kabel fiber optik dalam LTS dinilai dapat mempercepat sistem mitigasi. 

Peneliti bidang instrumentasi kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko mengatakan laser tersebut telah diciptakannya sejak tahun 2005. Sistem kerja LTS adalah dengan mengirim cahaya melalui fiber optik ke laut dan cahaya balik akan membawa informasi kondisi tekanan hidrostatik yang dirasakan.

Bambang mengatakan salah satu negara yang memiliki dan telah menggunakan LTS adalah Jepang. Sedangkan yang dimiliki oleh LIPI adalah LTS jenis fiber brag grating (FBG). 
 
"Prinsip kerjanya adalah mengirim cahaya dari darat kemudian ditembakan ke dasar laut, lalu ada sensor di dalamnya yang akan kembali menembakkan cahaya ke pos pantau," ujar Bambang di Gedung LIPI, Jakarta, Rabu (2/1).


Kerja LTS akan mulai ketika terjadi gelombang atau pergerakan air laut yang tidak biasa. Sensor deteksi akan membelokan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya tsunami ke pos pemantau. 

Bambang meyakini alternatif dengan sensor tsunami LTS ini lebih efisien. 

"Alternatif sensor tsunami berbasis fiber optik diyakini lebih efisien, mudah dalam perawatan, dan mampu dibuat sendiri," ujar Bambang 

Bambang menjelaskan LTS tidak memerlukan power supply di tengah laut, tanpa komponen aktif di sensor, karena berada di dasar laut sehingga aman dari pencurian atau terbawa arus, dapat langsung bersentuhan dengan air laut, tidak memerlukan bahan logam di sensor. Bahan logam disinyalir dapat berkarat yang mengakibatkan tidak berfungsi maksimal pada alat pendeteksi tsunami. 

LIPI Alternatif Tawarkan Alat Pendeteksi Lebih Irit dari BuoyAlat laser tsunami sensor (ATS). (Foto: CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)

Kemudian aman dari gangguan elektro magnetic maupun manusia. Selain itu biaya perawatan yang murah tetapi memerlukan biaya yang sangat mahal di awal. 

Biaya yang sangat mahal di awal itu, dijelaskan Bambang, karena kabel FO bawah laut dg 4 core seharga US$5 per meter. Untuk panjang sekitar 20 kilometer diprediksi akan mencapai Rp1,5 miliar. Namun pengembangan alat tersebut membutuhkan pendanaan yang berkelanjutan. 

Bambang mengatakan untuk anggaran LTS dapat mencapai Rp5 Miliar per tahun. Namun dapat berfungsi selama tiga tahun.

Lebih bagus dari buoy

Bambang menilai LTS lebih berguna daripada buoy (pelampung). Menurut Bambang, terdapat berbagai kendala pendeteksian tsunami memakai buoy seperti penentuan lokasi, pemasangan di laut lepas, pengaturan power supply dan  juga kendala koneksi jaringan dan proteksi tekanan air. 

Ditambahkan juga oleh Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, buoy biasanya hanya berfungsi sesaat. Jika tidak mati karena karatan oleh air laut, bisa juga buoy tidak lagi berfungsi karena hilang dicuri atau terbawa arus laut. 

"Mereka mencari alternatif lain yaitu menempelkan sensor di kabel bawah laut, kabel fiber optik bawah laut sehingga dia tidak rentan gangguan karena tidak ada di permukaan. Salah satunya selain koneksinya juga via optik tidak perlu kabel-kabel lagi," tuturnya. 

Laksana mencontohkan pemasangan buoy pernah dilakukan pasca tsunami Aceh. Namun belum lama buoy tersebut difungsikan justru hilang. 

"Paling fungsi sebentar habis itu mati, itu buang duit. Kita juga pasang setelah tsunami Aceh dulu tapi itu sebentar saja buoy itu hilang, belum tentu dicuri orang, (kan) dipasangnya di tengah laut," tuturnya. (gst/evn)