Direktur pemasaran Realme Asia Tenggara, Josef Wang mengatakan langkah tersebut merupakan strategi perusahaan untuk memperluas pangsa pasar. Menurutnya, sulit bagi merek China untuk menjangkau semua segmen jika hanya mengandalkan satu merek saja.
"Dari pandangan saya, kenapa Xiaomi memisahkan Pocophone dan kini Redmi karena mereka punya bisnis model," ujar Wang kepada awak media di Central Park, Jakarta Barat, Rabu (9/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Josef Wang, SE Asia Marketing Director Realme. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil) |
Di sisi lain, ia menyadari jika ada konsekuensi dari perpisahan merek. Merek yang lebih kecil harus diperkenalkan secara luas kepada masyarakat yang butuh biaya tidak sedikit.
"Memang tidak murah untuk membangun brand awarness baru, tetapi saya rasa tidak semikian dengan Xiaomi karena Redmi mereka sudah dikenal baik di pasar. Itu berbeda dengan kami (Realme) yang masih baru," imbuhnya.
Induk perusahaan Realmi (Oppo) misalnya, tak mempermasalahkan persaingan dengan siapapun. Hal itu lantaran Oppo tidak mengeluarkan produk untuk segmen dengan spesifikasi yang sama persis dengan Realme.
Realme, anak perusahaan Oppo baru hadir di Indonesia sejak Oktober 2018 menganggap Honor dan Xiaomi sebagai pesaing terberatnya. Alasannya lantaran kedua produsen lebih agresif menawarkan produk dengan harga kompetitif untuk pengguna.
"Kami sedang membangun basis fans, punya aplikasi Realme fans di Indonesia dan India. Rencana jangka panjang untuk memperkuat fans masih kami siapkan lebih lanjut," ucapnya. (kst/evn)
Josef Wang, SE Asia Marketing Director Realme. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)