Garap Palapa Ring Timur, Komisi I Minta Kominfo Waspadai OPM

CNN Indonesia | Jumat, 18/01/2019 02:15 WIB
Garap Palapa Ring Timur, Komisi I Minta Kominfo Waspadai OPM Pembangunan kabel optik palapa ring. (Foto: Dok. Biro Humas Kominfo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi I DPR RI menyarankan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominf) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) agar berhati-hati saat membangun jaringan Palapa Ring Timur.

Wakil Ketua Komisi I DPR Mayjen (Purn) TNI Asril Hamzah Tanjung mengkhawatirkan pembangunan infrastruktur jaringan ini justru akan menguntungkan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Palapa ring timur 90 persen kan udh mau kelar. Tapi harus hati hati pembangunannya dan bukan menghambat . Belum berapa bulan 31 pekerja kita dibunuh OPM, lalu pakah infrastruktur tidak akan dimanfaatkan OPM," kata Asril dalam rapat kerja bersama Kominfo di ruang rapat Komisi I DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (16/1).


Asril menyarankan agar Kominfo dan Bakti memilah daerah-daerah di Provinsi Papua dan Papua Barat yang merupakan cakupan wilayah pembangunan Palapa Ring Timur. 

"OPM jangan sampai memanfaatkan Palapa Ring, ini kita pilih pilih daerah pembangunan papua. Kita pilih kawasan yang aman dan di bawah pengawasan kita. Jangan sampai ini malah bermanfaat bagi musuh," tutur Asril. 

Ia menegaskan Kominfo harus berhati-hati dan memilah daerah agar pembangunan infrastruktur hanya akan menguntungkan negara Indonesia. 

"Papua harus hati-hati, padahal negeri kita sendiri. Jangan sampai dimanfaatkan sebesar besarnya oleh OPM. OPM juga kan bilang tidak butuh pembangunan negara, mereka maunya bebas," ucapnya.

Asril berharap pembangunan Palapa Ring Paket Timur bisa selesai sebelum Pemilu dimulai. 

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi I DPR RI Budi Youyastri mengatakan pembangunan tulang punggung jaringan internet ini justru juga sangat dibutuhkan OPM. 

"Begitu akses internet menjadi lebih luas di Papua siapa yang akan  menggunakan akses internet di sana, di kepala saya yang pasti yang sangat butuh OPM yang sudah lebih pintar menggunakan jaringan dia gerakan intelektual gerakan bersenjatan kekuatannya," ujar Budi. (jnp/evn)