"Meme ini dibuat oleh pengguna dan viral dengan sendirinya. Kami tidak memulai tren ini dan meme tersebut menggunakan foto yang sudah ada di Facebook," kata juru bicara Facebook.
Menurutnya, Facebook tidak mendapat keuntungan apapun dari tren tersebut. Bahkan ia juga mengingatkan bahwa pengguna bisa mematikan fitur pengenal wajah kapan saja jika tak menginginkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentang recognition itu tidak ada. Kami juga tidak ada komentar tentang itu (#10YearChallenge)," kata perempuan yang kerap disapa Ai di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (21/1).
"Banyak yang bilang itu karena itu naik lagi, sebenarnya tidak juga. Karena kan user kami 115 juta pengguna aktif setiap bulan. Kalau ditanya challenge itu salah satu cara untuk naikkan user ya tidak juga," ucapnya.
"Bisa karena biasanya beberapa user memang menghubungkan akun Instagram dengan Facebook. Jadi kadang yang di posting di Facebook naik ke Instagram atau sebaliknya yang naik ke Instagram, naik ke Facebook," pungkasnya.
Sangkalan ini sekaligus menjawab temuan profesor New York University School of Business Amy Webb yang menyebut viral #10YearChallenge merupakan 'alat sempurna' untuk memanfaatkan machine learning.
"Ini memberi Facebook kesempatan 'yang menakutkan' untuk belajar, melatih sistem mereka untuk lebih mengenali perubahan kecil," kata Webb kepada CBS News.
O'Neill menunjukkan bahwa tantangan ini membuat linimasa Facebook dipenuhi foto-foto pengguna yang diambil dalam jangka waktu tertentu.
Hal itu lantaran kemunculan foto tersebut lebih mudah untuk dianalisis, dari tahun-tahun foto yang telah diunggah pengguna tanpa urutan tertentu. Tantangan ini juga bisa menganalisis proses orang berubah menjadi lebih tua. (kst/jnp/evn)