Ovo Sebut Uang Tunai Jadi Saingan Terbesar Bisnis Fintech

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 18:29 WIB
Ovo Sebut Uang Tunai Jadi Saingan Terbesar Bisnis Fintech Ilustrasi penggunaan uang tunai untuk pembayaran. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan financial technology (fintech) Ovo mengatakan persaingan terbesar pengembangan bisnis di Indonesia bukanlah sesama kompetitor di ranah fintech.

Director of Enterprise Payment Ovo Harianto Gunawan mengatakan pesaing terberatnya saat ini justru uang tunai. Menurutnya, saat ini sekitar 90 persen masyarakat Indonesia masih memilih menggunakan uang tunai ketimbangkan fintech.

"Ini yang mau kita coba push, baik itu melalui kolaborasi, kerja sama dengan banyak partner, pemerintah, dan lainnya yang penting kami mau memberikan sesuatu yang lebih dibandingkan kompetitor," ungkap Harianto saat ditemui di Hotel Mulia, Selasa (22/1).


Besarnya porsi penggunaan uang tunai menurutnya lantaran kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap alat tukar konvensional tersebut masih tinggi.

"Tantangan selanjutnya adalah trust. Cash masih dominan karena semua ortang msh percaya cash. Maknya melalui kita punya strategi open ekosistem," akunya.

Aspek kepercayaan menurutnya merupakan tantangan terbesar kedua dalam pengembangan pembayaran nontunai. Untuk menggaet pengguna uang tuani agar beralih, Harianto mengatakan pihaknya berupaya memperkuat ekosistem lewat ketersediaan penggunaan di beragam layanan.

Sejauh ini, Ovo telah bekerja sama dengan Tokopedia, Grab yang juga bernaung di bawah Grup Lippo, merchant modern, serta 200 ibu UMKM.

Sedangkan tantangan ketiga menurutnya adalah terkait pemerataan konektivitas. Untuk itu, Harianto mengaku menyambut positif Proyek Palapa Ring untuk menyediakan akses dari Sabang hingga Merauke.

"Itu [Palapa Ring] sangat penting karena infrastruktur dasar untuk digital. Karena kalau nggak ada jaringan bagaimana kita bisa melakukan apapun dengan ponsel kita," ucapnya.

Sejak berdiri pada 2017 silam hingga kini, saingan Gopay tersebut sudah tersedia di 303 kota di Indonesia dengan transaksi lebih dari Rp1 miliar.

Dari semua layanan, Harianto mengatakan e-commerce, transportasi, dan ritel menjadi penyumbang terbesar penggunaan Ovo. "Kalau setiap transaksinya berapa kami belum ada angkanya saat ini karena kami baru masuk masuk ke ekosistem dan itu berubah-berubah setiap waktu," ucapnya. (kst/evn)