Rugi Rp8,4 T, 'Grab' dari China Lirik Fintech

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 21:03 WIB
Rugi Rp8,4 T, 'Grab' dari China Lirik Fintech Ilustrasi Didi Chuxing. (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan ride-hailing asal China, Didi Chuxing sepertinya di ujung tanduk sebelum resmi dimatikan. Hal itu disebabkan oleh regulasi pemerintah yang mengharuskan pengemudi Didi yang rata-rata merupakan pengemudi paruh waktu untuk memiliki lisensi ganda.

Terhitung mulai tanggal 1 Januari, Didi melarang pengemudi untuk beroperasi tanpa lisensi ganda. Lisensi pertama untuk pengemudi dan lisensi kedua untuk mobil yang mereka kendarai.

Untuk mendapatkan izin mengemudi, pengemudi harus menyediakan sertifikat dengan keterangan bersih dari tindakan kriminal. Dalam beberapa kasus ekstrim, bahkan pengemudi harus memiliki izin dari hukou lokal. 


Hukou adalah semacam izin yang mengatur di mana orang bisa bekerja dengan legal. Banyak pengemudi yang tidak memiliki hukou perkotaan karena mereka adalah pekerja dari daerah pedesaan Cina. Oleh karena itu mereka tidak memenuhi syarat untuk beroperasi di daerah perkotaan.

Di sisi lain, lisensi untuk kendaraan yang mewajibkan biaya tambahan agar kendaraan bisa beroperasi secara komersil. Biaya tersebut adalah biaya asuransi dan pemeliharaan mobil dan melepas mobil mereka setelah delapan tahun.

"Tidak ada pengemudi paruh waktu yang ingin mendaftarkan mobil pribadi mereka sebagai mobil komersial karena tingginya biaya yang menyertainya. Menjadi paruh waktu tidak membayar tagihan lagi," kata seorang pengemudi Didi yang berbasis di Shenzhen kepada Techcrunch.

Otoritas China secara bertahap meluncurkan berbagai regulasi yang ketat untuk mengatur pengoperasian ride-hailing. Kebijakan baru telah menjatuhkan jumlah pengemudi. Di kota tingkat 2 Nanjing, perusahaan telah menyingkirkan lebih dari 160 ribu kendaraan ilegal.

Minimnya jumlah kendaraan berimbas kepada waktu tunggu yang lebih lama kepada konsumen. Bahkan Didi juga harus mengalokasikan US$56 miliar atau sekitar Rp810 triliun untuk mempertahankan pasokan pengemudi. Kendati demikian pada paruh pertama 2018, Didi mengalami kerugian US$585 juta atau sekitar Rp8,4 triliun.

Didi Beralih ke Fintech

Baru-baru ini Didi meluncurkan serangkaian produk keuangan, termasuk crowdfunding dan pinjaman. Langkah ini dilakukan menyusul reorganisasi seluruh perusahaan yang diumumkan pada bulan Desember.

Produk-produk baru diuji di 10 kota dan sekarang telah diperkenalkan secara nasional. Produk-produk ini termasuk manajemen kekayaan, kredit dan pinjaman dan crowd funding. 

Produk-produk ini membawa Didi ke dalam persaingan dengan investor Alibaba Group Holding Ltd (BABA.N) dan rekan teknologi Tencent Holdings Ltd (0700.HK). (jnp/evn)