Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan manajemen perangkat lunak asal Amerika Puppet membuat laporan soal gaji profesional di bidang teknologi informasi (TI) di Asia pada tahun 2018 yang tercatat lebih tinggi ketimbang Eropa.
Dalam laporannya, Puppet melibatkan tiga ribu profesional TI di seluruh dunia. Berdasarkan catatan diketahui bayaran praktisi dan manajer TI di Asia Pasifik rata-rata memperoleh bayaran US$75 ribu atau sekitar Rp1,4 miliar hingga US$100 ribu atau sekitar Rp1,4 miliar dalam setahun.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan upah pekerja TI di Eropa yang rata-rata membawa pulang US$50 ribu atau sekitar Rp711 juta hingga US$75 ribu atau sekitar Rp1 miliar setahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan ini dipimpin oleh kenaikan gaji di Singapura dan Jepang. Kedua negara maju ini menjadi contoh dalam meningkatkan daya saing pekerja profesional di ranah teknologi informasi ke level dunia melalui peningkatan insentif pekerja. Jepang dan Singapura juga mencerminkan tren dan menjadi tolak ukur di Asia Pasifik.
Tahun 2017 sekitar kurang dari sembilan persen pekerja TI di Jepang berpenghasilan kurang dari Rp711 juta. Sedangkan di Singapura terdapat 27 persen pekerja mengantongi upah di bawah Rp711 juta.
Di tahun yang sama sekitar setengah dari responden di Asia melaporkan berpenghasilan kurang dari Rp306 juta. Sementara di tahun 2018 angka tersebut menurun 20 persen.
Jauh di Eropa, 10 persen karyawan melaporkan gaji lebih dari Rp1,4 miliar di tahun 2017 atau meningkat 30 persen pada 2018. Di ujung lain skala, hanya 10 persen melaporkan gaji lebih dari Rp1,4 miliar pada 2017 dibandingkan dengan 30 persen pada 2018.
Direktur Pelaksana untuk Asia Pasifik Puppet Darryl McKinnon, mengatakan laporan itu mengindikasikan bahwa organisasi melihat peningkatan kebutuhan SDM di bidang teknologi informasi.
"Organisasi sedang mengubah cara mereka mendekati dan memberikan layanan TI, mendorong kebutuhan untuk berinvestasi dalam membawa campuran talenta yang tepat," kata McKinnon dalam sebuah pernyataan mengutip
CNBC.
McKinnon mengatakan organisasi memberikan kompensasi untuk talenta dengan tepat agar tetap kompetitif.
"Mereka mencari bakat yang tidak hanya mahir dalam menavigasi lanskap teknologi tetapi juga mampu berinovasi dan meningkatkan proses pengiriman perangkat lunak."
Di sisi lain, Amerika terus mendominasi dalam hal menghasilkan potensi pendapatan bagi para pekerja teknologi informasi. Kisaran gaji pekerja teknologi informasi di Amerika yang paling umum pada tahun 2018 adalah Rp1,4 miliar hingga Rp1,7 miliar.
(jnp/evn)