Indonesia Darurat Tenaga Programmer

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 28/07/2017 12:02 WIB
Indonesia Darurat Tenaga <i>Programmer</i> Data peta okupasi tenaga TI di Indonesia menunjukkan Indonesia sangat kekurangan tenaga pemrogram (dok. Unsplash/Luis Llerena)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi SDM bidang TIK dalam negeri cukup memprihatinkan. Hal ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara berdasarkan data dari peta okupasi nasional di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Berdasarkan data peta tersebut, kebutuhan SDM TI belum terpenuhi hampir di semua lini kategori.

Dengan kondisi yang sangat timpang, Basuki menyebut tenaga di sektor pemrograman jadi prioritas dan membutuhkan lebih banyak ketersediaan.

"Kita prioritaskan yang di pasar laku, seperti misalnya desain pemrograman dan lain-lain. Itu yang mau didorong dulu karena di pasar diperlukan," kata Basuki yang ditemui di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Kamis (27/7).



Sebagai perbandingan, Rudiantara menyebut kualitas pendidikan bidang TIK Indonesia menempati peringkat ke-8 di Asia Tenggara. Hal itu menyebabkan kekurangan kebutuhan tenaga kompeten industri TIK.

"Kita ini kekurangan pasokan SDM, engineer. Lihat yang besar seperti Gojek dan Tokopedia mereka harus lari kemana," ujar Rudiantara.

Seperti diutarakan Rudiantara, Gojek merupakan salah satu perusahaan teknologi Indonesia yang mengimpor jasa warga India. Mereka bahkan telah mendirikan pusat litbang di Bengaluru, India.

Pemerintah juga membidik sekolah vokasional untuk jadi pencetak cepat para pemrogram atau coder. Sebaliknya, Basuki tak merasa ada urgensi untuk menggenjot tenaga ahli dengan jenjang pendidikan doktoral.

Kategori SDM TI di peta ini dibagi dalam 16 kategori dengan 9 level kompetensi. Dengan adanya peta ini pemerintah berharap bisa menjadi acuan mereka untuk menyetarakan jumlah SDM yang diperlukan industri TIK dalam negeri.


Basuki Yusuf Iskadar, Kepala Pengembangan SDM dan Riset TIK Kemenkominfo, mengatakan bahwa pembuatan peta ini baru pertama kali dilakukan. Sebelumnya pemerintah maupun industri tak tahu seberapa besar jarak antara permintaan dan ketersediaan SDM di bidang TIK.

Dengan data dari peta okupasi ini, Basuki menilai bisa mempercepat sosialisasi dan pelatihan ke lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan Kemenkominfo bersama beberapa institusi lain seperti Kementerian Kemnakertrans, Kadin, dan Bappenas. Dalam pidatonya, Rudiantara menyebut peta okupasi sebagai penunjuk arah.

"Ini baru awal sekali. Selanjutnya melakukan training, membangun ekosistem, kalau tidak dimulai dari sekarang bagaiamana," imbuh Basuki.


(eks/eks)