Rekam Jejak Penjualan Renault di Bawah Grup Indomobil

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 11:44 WIB
Rekam Jejak Penjualan Renault di Bawah Grup Indomobil Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grup Indomobil melepas tanggung jawab penjualan dan purnajual Renault di Indonesia. Merek mobil Prancis itu kini dikendalikan oleh perusahaan Nusantara Maxindo Group.

Dalam genggaman grup Indomobil, merek Renault seperti 'harimau tanpa taring', meski sekembalinya Renault ke industri otomotif Indonesia secara besar-besaran melalui pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015.

Sekitar tiga tahun sejak pengumuman tersebut, nyatanya Renault tidak mampu menarik antusiasme konsumen. Mobil-mobil Renault tak sanggup berkompetisi.


Hasil penelusuran CNNIndonesia.com berdasarkan hasil penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode 2016, Renault hanya mampu melego 134 unit.

Penjualannya kemudian melonjak naik satu tahun berikutnya menjadi 511 unit. Penopang penjualannya adalah Duster dengan angka 188 unit, diikuti Kwid 163 unit, dan Koleos 158 unit, serta dua unit Megane.

Sementara tahun lalu, penjualan Renault terangkum anjlok atau turun menjadi 273 unit. Dibandingkan dengan dua merek mobil China (Wuling dan DFSK), jelas Renault seperti 'langit dan bumi'.

Presiden Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Subronto Laras tak bisa menyangkal jika anjloknya penjualan Renault disebut imbas dari ketidakseriusan prinsipal dalam mengarungi industri otomotif dalam negeri, salah satunya tidak ada komitmen untuk mendirikan fasilitas pabrik atau strategi merakit lokal mobil di Indonesia.

Dalam catatan CNNIndonesia.com, Renault meresmikan 'butik dealer' di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya. Namun konsep 'unik' itu belum bisa meningkatkan selera konsumen pada Renault.


Atas dasar itu Indomobil 'rela' melepas keagenan Renault yang dinilai 'tak ada gunanya'. Pola bisnis Renault kala itu justru dianggapnya menambah beban perusahaan.

"Perkembangan (industri otomotif Indonesia) ke depan sudah berubah. Izin impor tidak gampang, tidak ada gunanya buat kami. Kalau kami enggak punya pabrik (produksi Renault di dalam negeri) buat apa?," kata Subronto.

Di lain sisi, Agen Pemegang Merek (APM) Renault yang baru, Maxindo Renault Indonesia mengaku optimistis Renault bisa kembali bangkit, meski masih merahasiakan target penjualan per tahun.

COO Maxindo Renault Indonesia Davy J Tuilan hanya bisa menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan strategi, salah satunya meluncurkan mobil 'murah' tujuh penumpang. (ryh/mik)