Indonesia Rentan Kena Serangan Siber

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 21:00 WIB
Indonesia Rentan Kena Serangan Siber Ilustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan di Indonesia rentan terkena serangan siber. Hal ini diungkap Senior Partner and Global Leader Cybersecurity Practice David Chinn. 

"Sebagian besar perusahaan Indonesia memiliki celah yang membuatnya rentan terhadap serangan di dunia maya," kata David usai konferensi pers mengenai keamanan siber di kantor McKinsey Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (30/1).

Menurutnya ada empat penyebab kerentanan siber ini. Empat penyebab kerentanan keamanan ini adalah;
1. terbatasnya perencanaan soal bagaimana menanggapi ketika terjadi insiden keamanan siber.
2. Kebijakan keamanan siber perlu dijelaskan, ditingkatkan.
3. Resiko siber dipandang sebagai masalah bagian TI, bukan masalah bisnis.
4. Rendahnya kewaspadaan pekerja atas isu keamanan siber, sehingga seringkali pekerja tak waspada dengan tautan berbahaya yang dikirim lewat email atau sembarangan menancapkan USB yang ditemukan ke komputer kantor.


Dari empat hal itu, David mengungkap rendahnya kewaspadaan karyawan jadi hal yang paling mengkhawatirkan. Selain itu, rentannya perusahaan Indonesia terkena serangan siber juga diakibatkan oleh kurangnya persiapan untuk menghadapi krisis, dan penegakkan kebijakan yang harus ditingkatkan lagi.

"Misal, saat seorang karyawan mengklik satu link ketika sedang membuka situs tertentu. Namun, link tersebut hanya bersifat phising," jelas David.

Maka dari itu, McKinsey juga memberikan 7 rekomendasi kepada perusahaan Indonesia untuk menghadapi serangan siber yakni,

1. Memprioritaskan aset yang dimiliki,
2. Mendidik dan melatih semua pihak di dalam suatu organisasi atau perusahaan,
3. Mengintegrasikan ketahanan cyber ke dalam proses perusahaan secara luas,
4. Menanggapi insiden secara holistik dan diperkuat dengan pengujian yang realistis,
5. Mengintegrasikan keamanan yang mendalam ke dalam lingkungan teknologi,
6. Memberikan perlindungan yang berbeda untuk aset yang paling penting,
7. Dan menggunakan pertahanan aktif.

Lebih lanjut, Chinn menyebut bahwa di era industri 4.0, pertahanan siber di Indonesia mesti lebih dikuatkan. Maka ia menyarankan agar pemerintah dan perusahaan di Indonesia membenahi pertahanan siber mereka.

Saat ini, Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk memasuki era industri 4.0 pada 2025 mendatang. Kementerian Perindustrian sendiri telah merancang Making Indonesia 4.0.

Hal tersebut ia sampaikan mengingat Indonesia berada di peringkat ke-70 dari 165 negara secara global dalam keamanan siber menurut data International Telecommunications Union. (din/eks)