Biaya Mahal, Baru 1 dari 10 Pelaku Industri Pakai IoT

JNP, CNN Indonesia | Kamis, 05/07/2018 14:58 WIB
Biaya Mahal, Baru 1 dari 10 Pelaku Industri Pakai IoT Ilustrasi. Baru 1 dari 10 pelaku industri menerapkan IoT di untuk mendukung Industri 4.0 dengan membuat pabrik cerdas misalnya. Masalah tingginya biaya untuk memasang IoT di usaha mereka menjadi kendala (Dok Wuling Motors)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggunaan teknologi IoT (Internet of Things) di Indonesia masih terhambat dengan mahalnya biaya implementasi. Sehingga pemasangan IoT di industri untuk membangun pabrik cerdas misalnya, baru diterapkan oleh 1 dari 10 pelaku industri.

Hal ini terungkap dari survey Asia IoT Business Platform (AIBP). Berdasarkan survei tersebut, baru 11, 8 persen bisnis di Indonesia yang telah menggunakan teknologi IoT. Dari mereka yang sudah mengimplementasinya, setengahnya (5,1 persen) sudah mendapat manfaat.

Sementara sebanyak 66 persen lainnya masih mempertimbangkan implementasi IoT. Dari 66 persen tersebut, sebanyak 29 persen pelaku sedang mengeksplorasi solusi IoT yang ada dan 37 persen mengumpulkan fakta dan mempelajari IoT.


Dengan demikian secara total terdapat 83 persen peminat dan implementer IoT di Indonesia. Angka ini menurut Direktur Asia IoT Business Platform Irza Suprapto menandakan minat yang tinggi terhadap implementasi IoT di Indonesia.

"Angka yang cukup mengejutkan datang dari Indonesia mengenai implementasi IoT. Minat dan implementasi IoT sangat tinggi," katanya saat jumpa pers di bilangan Kuningan, Jakarta, Rabu (4/7).

Masalah tingginya biaya, tidak hanya dikeluhkan pelaku industri di Indonesia. Hal serupa juga tercermin pada pelaku industri lain di Asia Tenggara.

sebanyak 68,9 persen dari 1573 responden di Asia Tenggara mengatakan penerapan IoT skala besar terhambat oleh biaya yang tinggi. Responden ini berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Selain masalah biaya, hambatan implementasi IoT lainnya adalah masalah keamanan (56,3 persen), ketidaksesuaian dengan sistem lama (48,2 persen), kompleksitas sistem (43, 6 persen) dan ketersediaan sumber daya manusia yang memahami teknologi itu (40,4 persen).

Implementasi IoT di industri ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk membangun industri 4.0. Industri 4.0 ini akan menelurkan pabrik cerdas yang melibatkan kecerdasan buatan, pertukaran data, dan automasi, melalui Internet of Thing (IoT). Dengan implementasi tersebut Irza optimis bisnis di Indonesia bisa bersaing hingga kawasan regional.

"Ada peluang besar dalam sektor perekonomian yang mendapat manfaat dalam teknologi IoT. Pada 2030, industri otomotif diperidiksi memproduksi 46 juta kendaraan, sektor utilitas akan membangun 83 juta rumah, dan 57 juta Usaha Kecil dan Menengah," ujar Irza. (eks/eks)