NASA Temukan Pulau Baru Hasil Letusan Gunung Api di Oceania

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 14:00 WIB
NASA Temukan Pulau Baru Hasil Letusan Gunung Api di Oceania Pulau baru di Pasifik Selatan yang ditemukan peneliti NASA. (Foto: Dok. NASA via blogs.nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Lembaga Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) Dan Slayback beserta ilmuwan dan mahasiswa dari Sea Education Association menemukan keberadaan sebuah pulau baru di Tongan, Oceania wilayah Pasifik Selatan.

Pulau baru ini diketahui terbentuk selama tiga tahun dari kaldera (kawah gunung berapi yang merosot ke tanah setelah terjadi letusan). Pulau tanpa nama ini hanya satu dari tiga pulau Tongan yang membentuk semacam bagan laut akibat erupsi gunung api selama lebih dari 150 tahun.

Pemetaan satelit menunjukan adanya pantai dangkal di sisi selatan yang bisa memudahkan peneliti saat menghampiri daratan. Peneliti menggunakan gabungan nama dari pulau tetangganya, HungaTonga-Hunga Ha'apai (disingkat HTHH) untuk pulau baru itu.


Slay bersama rekan peneliti Jim Garavin dari Goddard College dan Vicki Ferrini dari Columbia University sebelumnya menemukan pulau baru ini dari citra satelit luar angkasa.

"Pulau ini belum terpetakan sebelumnya," ungkap Slay seraya mengatakan jika pulau baru ini berada di antara dua pulau lain yang berusia lebih tua.

Ketiganya mencoba membuat model tiga dimensi untuk mengetahui bentuk dan volume perubahan pulau baru tersebut untuk mencatat seberapa banyak material yang terkena erosi, serta kandungan material apa yang membuat pulau tersebut bertahan.

Hanya saja, penelitian resolusi tinggi melalui satelit tidak dapat menunjukkan semua detail di lapangar, cara terbaik adalah tetap mengunjungi pulau tersebut. Saat didatangi, Slay dan tim menemukan jika pantai tersebut terlalu curam dan ombaknya terlalu besar untuk kapal berlabuh.

Peneliti NASA Temukan Pulau Baru Hasil Letusan Gunung Api di Permukaan Pulau HTHT. (Foto: Dok. NASA via blogs.nasa.gov)

Untuk menemukan pulau ini, Slay beserta tim telah menghabiskan waktu dengan berlayar hingga berlabuh 8 Oktober 2018 lalu. Di sana, mereka mengambil gambar pengukuran GPS presisi tinggi untuk mengetahui lokasi, kenaikan batu-batu besar, serta fitur erosi lain yang selama ini hanya diamati melalui gambar satelit. Tim juga mengerahkan drone untuk pengamatan aerial dengan mendapatkan model pemetaan tiga deminse pulau HTHT.

"Kebanyakan berupa kerikil hitam, saya tidak menyebutnya pasir karena ukurannya menyerupai kerikil-- dan kami mengenakan sansal, sehingga sangat sakt ketika kerikil terselip di kaki," imbuhnya.

Ia mengatakan temuannya itu membuatnya sadar jika daratan ini tidak sedatar seperti gambar satelit. Tim peneliti menemukan adanya gradient tanah dan kerikil yang menciptakan pola akibat deru ombak. Disamping itu ada juga tempuan material berwarna terang serupa lumpur.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan foto tanaman dengan akar keluar di permukaan tanah yang menghubungkan pulau tersebut dengan pulau tetangga. Ada juga kotoran burung di samping puncak gunung api.

Tim peneliti memastikan hanya mengumpulkan sampel batuan unuk menganalisa kandungan mineral. Tujuan kandungannya tak lain untuk meneliti elevasi pulau tersebut.

"Intinya kami ingin mengambil sampel pemetaan satelit dan menghubungkannya dengan referensi yang telah diketahui secara partikular berupa kenaikan vertikal," ucapnya.

Dengan serangkaian temuan ini, ia dan tim ingin mencari model pencocokan model geoid yang sesuai dengan ukuran permukaan ketinggian laut.

"Pulaunya terkikis oleh air hujan lebih cepat dari yang kami bayangkan. Kami berfokus pada pengikisan di pantai selatan karena ombak-ombaknya menerjang dengan kencang," imbuhnya. (lea/evn)