Carlson berhasil melelang tas itu senilai US$1,8 juta dolar (Rp25,4 miliar). Namun, ia sebenarnya berharap nilai lelang barang itu bisa mencapai US$4 juta dolar. Padahal ia membeli barang itu senilai US$995 pada lelang di tahun 2017.
Wanita yang berdomisili di Illinois ini menuduh NASA telah merusak serat tas itu dan menimbulkan robekan saat badan antariksa AS itu melakukan penelitian debu Bulan yang tersangkut di bagian dalam tas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minta NASA meneliti
Ketika memenangkan lelang, ia tak mengetahui sejarah dari tas tersebut. Saat itu ia hanya diberi tahu kalau tas itu telah dicuri oleh seorang kurator museum yang diduga juga melakukan artefak luar angkasa lain yang digunakan pada penerbangan misi Apollo 11.
Proses inilah kemungkinan membuat tas mesti dirobek. Hasil penelitian menyebut bahwa debu yang ada di dalam tas memang berasal dari landasan Tranquility, tempat mendaratnya misi bulan pertama, Apollo 11.
Ritsleting tas ini juga terbukti dipakai untuk mencegah kontaminasi dari contoh debu bulan yang dibawa Neil Armstrong dalam pendaratan pertama mereka di Bulan pada 1969.
Lihat juga:Debu Bulan Beracun untuk Manusia Bumi |
Robekan inilah yang menurut Carlson telah menurunkan nilai barang itu. Kini ia menuntut NASA atas tuduhan pengerusakan ini.
Tuntutan kedua
Ini bukan kali pertama Carlson berurusan dengan peradilan NASA. Sebelumnya, ia sempat menggungat badan antariksa itu lantaran tak kunjung mengembalikan tas yang tengah dalam penelitian itu meski sudah diminta berulang kali.
Sehingga Carlson menuntut NASA di dua tempat, Texas dan Kansas. Pada Februari 2016, hakim Kansas memutuskan bahwa pemerintah AS tak sengaja menjual tas itu di lelang. Sehingga, Carlson yang dinamai sebagai pembeli dengan tujuan baik berhak memiliki tas itu. Pada 20 Juli 2017, tas itu dilelang di rumah lelang Sotheby. Carlson berhasil mendapat US$1.812.500, padahal rumah lelang itu memperkirakan tas itu bisa dihargai US$4 juta.
Peristiwa ini telah menyebabkan "penghinaan, rasa malu, tekanan emosional, dan kecemasan," bagi Carlson. Sehingga ia sekaran gmencari imbalan keuangan atas hilangnya pendapatan, pengeluaran atas kasus hukumnya, dan kompensasi atas tekanan emosionalnya, seperti dilansir Gizmodo. (eks/eks)