Bayang-bayang Manipulasi Data Saat Pilpres 2019

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 15:32 WIB
Bayang-bayang Manipulasi Data Saat Pilpres 2019 Ilustrasi peretasan (Foto: Istockphoto/ipopba)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaspersky Lab memprediksi pergelaran Pilpres 2019 terancam tangan usil peretas karena aksi manipulasi data.

Kendati demikian, Territory Channel Manager SEA Kaspersky Lab Indonesia Dony Koesmandarin enggan mendefinisikan data-data tersebut. Ia menekankan data-data Pilpres 2019 yang dikelola oleh pemerintah, terancam oleh serangan peretas. 

"Saya bilang data yang bisa dimanipulasi. Data apapun yang bisa dimanipulasi. Data yang bisa dibobol itu jadi peluang. Begitu ada kesempatan data yang bisa ditangkap ya diincar. Itu celah keamanan yang menjadi target yang menguntungkan dan menarik," ujar Dony saat acara Media Meeting Kaspersky Lab di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (7/2). 


Dony mengatakan data-data Pilpres 2019 sangat menarik bagi peretas. Pasalnya, saat ini semua hal yang berkaitan dengan Pilpres 2019 menjadi pusat perhatian.

Oleh karena itu, ketika data ini berhasil dibobol, maka peretas berhasil memberikan efek yang besar. 

"Semua orang menaruh perhatian ke sana (Pilpres 2019). Pusat perhatian ke Pilpres. Begitu jadi pusat perhatian, itu adalah target yang sangat baik. Siapapun yang berhubungan dan berkepentingan menjadi target," tutur Dony. 

Ia bahkan mengatakan ada orang-orang yang membayar peretas untuk melakukan pembobolan data menjelang Pilpres 2019. Hal ini menjadi motif ekonomi peretas untuk meretas data sebagai tentara digital bayaran.

"Kalau ekonomi juga dia punya keuntungan pribadi. Misalnya seseorang bayar peretas untuk melakukan ini. Peretas jadi punya keuntungan ekonomi kareana ada orang yang dibayar untuk meretas," kata Dony. 

Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa serangan juga bisa dilakukan oleh peretas yang berasal dari luar negeri. Untuk itu ia berharap Polri tidak boleh tertipu dengan lokasi peretas.

Pasalnya hanya dengan bermodalkan virtual private network (VPN), peretas bisa mengelabui polisi. 

"Sekarang saya di Indonesia. Saya buat VPN dari Hong Kong. Yang terdeteksi pasti Hong Kong. Padahal saya di Indonesia, jadi tidak terbatas ruang dan waktu," ujarnya. 

Dony mengatakan peretas memiliki banyak teknik untuk mengakses data. Ketika mereka bisa mengakses data, peretas bisa sesuka hati merubah atau mengambil data tersebut. 

Di luar membobol data, peretas juga bisa menyerang server untuk dilumpuhkan. Sehingga ketika server down, data-data di dalamnya tidak bisa diakses.

"Yang kedua bagaimana bicara teknis bisa simpel, tanpa ubah data. Tapi saya buat server itu jatuh atau tidak bisa dipakai. Begitu dia selesai, data ada di sana tapi tidak bisa diakses," tutur Dony. (jnp/evn)