Supervisor Mafindo Santi Indra Astuti mengatakan penyebaran hoaks terbanyak di Facebook terjadi pada September 2018, yakni 62 hoaks. Sementara, paling sedikit terjadi pada Mei dan November 2018 sebanyak 23 hoaks.
Selain Facebook, media sosial atau aplikasi lainnya yang kerap dimanfaatkan berbagai pihak untuk memberikan informasi hoaks, di antaranya Twitter, Instagram, dan Whatsapp. Lebih detil, hoaks yang dibeberkan lewat Twitter sebanyak 82 hoaks dan Whatsapp sebanyak 114 hoaks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu kalau penyebaran hoaks melalui Twitter tidak menonjol dalam pemetaan 2018," ujar Santi, mengutip riset Mafindo, Sabtu (9/2).
"Hoaks politik terbanyak ditemukan pada September, jumlahnya mencapai 69 dari total hoaks sebanyak 101," ungkap Santi.
"Tema politiknya pun tidak jauh dari isu dukungan, pencitraan negatif, dan delegitimasi pemerintah," jelas Santi.
Kemudian, untuk hoaks bertema agama memuncak pada Oktober 2018. Santi menjelaskan pada bulan itu terjadi peristiwa pembakaran bendera yang tertulis kalimat tauhid.
Sebagian pihak melakukan penyebaran hoaks dengan berbagai jenis dokumen, yakni narasa, foto, dan video. Berdasarkan data yang ditemukan, kombinasi antara narasi dan foto mendominasi sebanyak 443 hoaks. Diikuti berupa narasi saja sebanyak 340 hoaks, kombinasi narasi dan foto sebanyak 126 hoaks.
Untuk tahun ini, tambah Santi, Mafindo memprediksi jumlah hoaks politik tetap menjadi target utama sejumlah pihak dalam menyebarkan hoax. Hal ini seiring dengan mendekatnya jelang pilpres pada April 2019 mendatang.
"Hoaks politik diprediksi tetap mendominasi setelah pilpres, siapapun pemenangnya, lazimnya diisi dengan hoaks yang mendelegitimasi pihak-pihak yang terkait dengan pilpres," pungkas Santi. (aud/evn)