Kerek Ekspor, Gaikindo Ingatkan Pemerintah Lobi Prinsipal

Febri Ardani, CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 15:57 WIB
Kerek Ekspor, Gaikindo Ingatkan Pemerintah Lobi Prinsipal Ekspor Kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengingatkan kepada pemerintah bahwa ekspor kendaraan produksi Indonesia ditentukan juga oleh masing-masing prinsipal produsen dalam negeri.

Jadi, peningkatan target ekspor mobil Completely Built Up (CBU) yang sudah ditentukan buat 2019 juga mesti diimbangi strategi melobi prinsipal yang kebanyakan berada di Jepang.

Pada 2018, seluruh anggota Gaikindo mencatatkan angka ekspor kendaraan CBU sebanyak 264.553 unit. Toyota merupakan pengekspor terbesar sejumlah 206 ribu unit.


Pada tahun ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menetapkan target ekspor mobil CBU dari Indonesia naik 51,2 persen atau menjadi 400 ribu unit.

Ketua 1 Gaikindo Jongkie Sugiarto mengaku target 400 ribu unit memungkinkan tercapai dan mengatakan bakal mendukung target itu. Saat ini dijelaskan kapasitas terpasang produksi mobil di Indonesia mencapai 2,2 juta unit per tahun, sedangkan pada 2018 baru terpakai 1,4 juta unit.

Itu berarti masih ada 800 ribu unit per tahun kapasitas terpasang yang statusnya belum terpakai dan bisa digunakan buat mendongkrak ekspor CBU.

"Itu mungkin saja, tetapi ekspor itu dikendalikan oleh para prinsipal, rata-rata kantor pusatnya di Jepang. Pihak Indonesia harus mati-matian ke sana. Jadi kami tentunya berharap prinsipal itu bisa menggenjot ekspor," ujar Jongkie saat dihubungi, Kamis (14/2).

Saat ini lima besar produsen mobil di Indonesia adalah Daihatsu, Toyota, Honda, Mistubishi, dan Suzuki. Induk perusahaan kelima produsen tersebut ada di Jepang.

Bukan cuma membutuhkan peran pemerintah, Jongkie juga mengatakan inisiatif rekanan prinsipal di Indonesia juga penting buat meyakinkan peningkatan ekspor.

"Mudah-mudahan target itu bisa tercapai, tetapi kalau mau lebih kencang lagi mesti begitu. Kapasitas produksi kita cukup, tinggal prinsipal ini didorong jual barang buatan Indonesia," kata Jongkie.

Selain soal lobi prinsipal, Jongkie juga menjelaskan Indonesia harus memiliki jenis mobil yang lebih beragam buat memenuhi permintaan pasar internasional. Saat ini ekspor mobil CBU Indonesia dominan MPV, sementara tren dunia membutuhkan sedan dan SUV.

"Itulah makanya kami bilang harus ditambah, jangan hanya MPV atau SUV, karena permintaan dunia itu masih ada sedan dan pikap," ucap Jongkie.

Jongkie menjelaskan harmonisasi pajak yang sudah diusulkan dan sedang dikaji pemerintah bisa menjadi solusi agar prinsipal berani memproduksi lebih banyak model selain MPV di dalam negeri.

"Ini kan tergantung. Harmonisasi tarif, berikutnya meningkatkan angka penjualan dari jenis lain yang harganya terjangkau sehingga orang mau beli. Kalau pasarnya sudah besar, pasar sedan, SUV, atau pikap dan lain-lain maka prinsipal akan memikirkan memproduksi lokal kemudian ekspor. Ini urutan yang mesti dijalani, tidak bisa loncat-loncat," papar Jongkie. (fea)