4 Sosok di Balik Startup Unicorn Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 10:12 WIB
Ilustrasi. (Foto: Adhi Wicaksono/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasca debat Pilpres 2019 yang berlangsung tadi malam, unicorn 'mendadak naik daun'. Karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Jokowi kepada Prabowo, sontak pembahasan unicorn bermunculan di mana-mana. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang memiliki banyak unicorn di kawasan Asia Tenggara. 

Dari sekitar 8 unicorn yang ada, 4 di antaranya berada di Indonesia. Namun, tak banyak yang mengetahui di balik perusahaan triliunan ini, para pemiliknya pun mengukuhkan sebagai 'konglomerat' baru di Indonesia.

Majalah Global Asia edisi Juni 2018 lalu sempat merilis 150 Richest Indonesian. Menariknya, selain pemain lawas dengan usaha yang telah menggurita, mulai bermunculan nama 'kepala unicorn'. Lima nama terbawah dari daftar ini berisi nama empat founder startup unicorn di Indonesia.


Ferry Unardi, founder Traveloka menempati urutan 146 dengan kekayaan US$145 juta, mengungguli tiga rekan lainnya. Menyusul diposisi 148 ada nama William Tanuwidjaya, founder Tokopedia dengan kekayaan US$130 juta. Pemilik e-commerce Bukalapak yang jadi pesaing Tokopedia, Achmad Zaky ada di posisi 149 dengan kekayaan US$105 juta. Sementara Nadiem Makarim yang menjadi bos Gojek, ada diposisi buncit (150) dengan kekayaan US$100 juta.

Menariknya lagi, keempat founder ini termasuk orang termuda dari daftar 150 orang kaya di Indonesia yang rata-rata sudah berusia lebih senior dari mereka. Ferry Unadi dari Traveloka bisa dibilang sebagai orang kaya termuda yang ada dalam daftar ini.

Berikut profil dari keempat 'OKB' tersebut:

1. Ferry Unardi (posisi ke-146, kekayaan US$145 Juta)

Ferry adalah CEO dari perusahaan Unicorn karya anak bangsa, Traveloka. Bisnis yang awalnya hanya merupakan platform pemesanan tiket pesawat ini dirintis Ferry bersama dua orang temannya saat kuliah, Derianto Kusuma dan Albert Zhang.

Saat ini, bisnis Traveloka sudah banyak berkembang dan melayani tak hanya pemesanan tiket pesawat, tetapi juga kereta api, hotel, dan atraksi-atraksi di tempat wisata. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, pria kelahiran Padang, 16 Januari 1988 ini melanjutkan studinya di Purdue University, Amerika Serikat dengan jurusan Computer Science and Engineering pada tahun 2004.

Ia memperoleh gelar Bachelor of Science di bidang Mathematics and Computer Science dalam waktu empat tahun. Ia sempat bekerja sebagai seorang software engineer di Microsoft selama tiga tahun setelah lulus kuliah, tetapi ia tak puas dengan kariernya di raksasa teknologi tersebut.
Ferry pun memutuskan untuk kembali menimba ilmu di Harvard Business School, Amerika Serikat. Pada saat itulah ide membangun bisnis Traveloka digagas, berangkat dari kesulitannya memesan tiket pesawat ketika hendak pulang ke Indonesia.

Setelah merintis Traveloka pada Maret 2012, Ferry memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikannya di Harvard dan fokus untuk mengembangkan bisnis. Jika melihat kesuksesan Traveloka dan kekayaan Ferry yang kini sudah mencapai US$145 juta di usia 30 tahun, keputusan untuk berhenti kuliah rasanya dapat dikatakan sebagai langkah yang tepat. (age)
1 dari 4