Bagi orang awam, istilah unicorn mungkin terasa asing. Mengingat unicorn kerap identik dengan sosok kuda bertanduk satu yang kerap ada di cerita mitologi.
Istilah yang sama sejatinya juga disematkan pada perusahaan rintisan (startup) yang telah memperoleh valuasi lebih dari US$1 miliar. Penggunaan istilah unicorn pertama kali dilakukan oleh salah satu pemodal asal AS Aileen Lee pada 2013 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lee memaparkan menurut data National Venture Capital Association (NVCA) 39 persen dari unicorn terhitung langka, karena hanya 0,07 persen dari startup teknologi yang muncul saat itu.
Selanjutnya, perusahaan yang masuk dalam startup unicorn club butuh waktu setidaknya delapan tahun untuk mendapat status unicorn. Hanya saja, unicorn tersebut kemudian harus menghadapi nasib likuiditas.
Aliran suntikan dana untuk startup mengalami puncaknya pada 2013. Laporan Pricewaterhouse Coopers National Venture Capital Association (PwC/ NVCA) MoneyTree mencatat pada kuartal ketiga 2013 pemodal venturan sudah menggelontorkan US$3,6 miliar pada 468 startup teknologi. Jumlah ini meningkat 73 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.
CB Insight hingga Januari 2019 melaporkan di seluruh dunia saat ini ada lebihd ari 300 startup. Sementara di Indonesia hingga saat ini baru ada empat unicorn yakni Bukalapak, Gojek, Traveloka, dan Tokopedia. (din/evn)