Zuckerberg Gelar Pertemuan Tertutup dengan Pemerintah Inggris

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 08:00 WIB
Zuckerberg Gelar Pertemuan Tertutup dengan Pemerintah Inggris Ilustrasi. (REUTERS/Elijah Nouvelage)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg dipastikan melakukan pertemuan tertutup dengan Sekretaris Budaya Inggris Jeremy Wright guna menyelesaikan masalah soal pelanggaran privasi data di kantor pusat Facebook, California, Kamis (21/2).

Mengutip BBC, Zuckerberg menolak untuk terlibat dalam investigasi yang dilakukan oleh komite DCMS yang dibentuk oleh parlemen Inggris selama 18 bulan terkait disinformasi dan berita palsu yang dilakukan oleh pihak Facebook.

Laporan yang dibuka oleh komite DCMS itu menyatakan bahwa Facebook telah sengaja melanggar privasi data dan undang-undang soal persaingan.


Selain itu, Wright berencana untuk meminta Zuckerberg bersaksi dihadapan parlemen Inggris guna menjelaskan langkah apa yang akan dilakukan Facebook untuk mengatasi hal tersebut.
Diketahui, pada pekan lalu, Departemen Kebudayaan Inggris merilis sebuah laporan terkait bagaimana melestarikan jurnalisme berkualitas tinggi di Inggris serta kepada pemerintah Inggris untuk menyelidiki Facebook dan dominasi iklan pada platform Google.

Hal itu juga menunjukkan bahwa regulator harus mengawasi hubungan antara industri berita dengan perusahaan raksasa teknologi itu.

Tak hanya Facebook, perusahaan teknologi lainnya yang akan dikunjungi Wright dan James yaitu Twitter, Apple, Snapchat dan Tinder. Mereka juga berencana untuk bertemu dengan pakar teknologi dan tokoh-tokoh terkenal seperti pendiri Linkedin, Reid Hoffman.

Selain itu, Wright dan Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid juga akan merilis 'buku putih' pekan depan yang berisi berbagai proposal legislatif maupun non-legislatif guna menangani risiko saat menggunakan platform dunia maya itu.

Salah satu kekhawatiran utama Wright dan Javid ialah bagaimana membuat dunia maya 'lebih aman' dari aktivitas ilegal seperti eksploitasi anak serta intimidasi dan pelecehan seksual di dunia maya.
"Penting bahwa apa yang kita lakukan ini secara bersamaan merupakan cara untuk melindungi orang-orang dari bahaya saat menggunakan platform berbasis daring," kata Wright.

Buku putih yang akan disusun oleh parlemen Inggris itu juga berisi masukan dari berbagai perusahaan teknologi yang dikunjungi Wright dan James selama seminggu.

Wright berharap proposal yang ia namai 'buku putih' itu pada akhirnya akan menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin meredam dampak negatif dari Facebook. (din/age)