LIPI Keluhkan Terbatasnya Peneliti Flora di Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 18:38 WIB
LIPI Keluhkan Terbatasnya Peneliti Flora di Indonesia Ilustrasi koleksi tanaman di Kebun Raya Bogor. (Foto: CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan jumlah peneliti di Indonesia tidak sebanding dengan kekayaan jenis flora yang ada. Sebagai contoh, Plt Kepala Pusat Penelitian Konservasi dan Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hendrian menyebut Kebun Raya Bogor hanya memiliki 50 peneliti, padahal kebun yang berdiri sejak 1817 ini setidaknya memiliki sekitar 12 ibu jenis tumbuhan.

"Jadi jangankan Indonesia, misalnya di dalam kebun raya yang koleksinya hanya dalam kisaran ribuan saja jenis itu kita hanya punya peneliti yang jumlahnya terbatas," kata Hendrian di kantor Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Bogor, Senin (25/2).

Jumlah yang tidak seimbang ini, disebut Hendrian sebagai salah satu tantangan untuk melakukan konservasi dan melakukan kajian riset flora.


"Tenaga peneliti kita dibandingkan dengan jumlah jenis yang teliti kalau pendekatan dan jenis, ya itu memang belum seimbang," kata Hendrian.

Untuk mengakali minimnya jumlah peneliti, Hendrian mengatakan harus ada konsep prioritas. Konsep ini adalah menentukan mana flora yang diprioritaskan untuk dikonservasi atau untuk dikaji di kebun dengan luas 87 hektare ini.

"Untuk mendorong salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan setting priority, untuk berhadapan dengan sekian ribu jenis. Jenis-jenis mana saja yang sangat penting dan urgent untuk segera dikonservasi," ujar Hendrian.

Dengan adanya konsep prioritas tersebut, Hendrian mengatakan energi dan pikiran peneliti bisa difokuskan ke flora yang misalnya sedang berada di ancam kepunahan.

"Tetap sebetulnya semua harus ditangani. Tapi dibalik kekayaan itu juga ada tanggung jawab yang besar, harus bagaimana menangani sekian banyak yang kita punya itu. Kita harus melakukan setting priority," ujar Hendrian. (jnp/eks)