Suplai Avanza Kurang, Toyota 'Teriak' ke Daihatsu

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 14/03/2019 11:58 WIB
Suplai Avanza Kurang, Toyota 'Teriak' ke Daihatsu Toyota Avanza 2019. (Foto: Toyota)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toyota Astra Motor (TAM) menilai produksi 5.000 unit Avanza per bulan di pabrik Daihatsu saat ini tidak mampu memenuhi permintaan konsumen. TAM meminta kepada Astra Daihatsu Motor (ADM) meninggikan produksi Avanza agar bisa memenuhi inden yang totalnya sudah 18.300 unit sejak peluncuran desain facelift pada 15 Januari 2019.

TAM mengungkap angka wholesales (pengiriman unit distributor ke dealer) Avanza selama dua bulan pada awal tahun ini sejumlah 11.268 unit, terbagi pada Januari 5.568 unit dan Februari 5.700 unit.

Angka itu tidak bisa mewakili jumlah unit yang telah terdistribusi ke konsumen, meski begitu bisa digambarkan TAM kira-kira masih punya utang memenuhi inden sebesar 7 ribu unit.


"Avanza kami minta naikkin [produksinya]. Dan ada komitmen dari ADM untuk naikkin produksi. Akan nambahin shift dan waktu. Dan holiday [mereka] coba masuk," kata Executive General Manager TAM Fransiscus Soerjopranoto di Jakarta Selatan, Rabu (13/3).

Soerjo, panggilan singkatnya, mengatakan, meminta kepada ADM menambah produksi Avanza merupakan hal tepat. Hal itu juga bakalan jadi modal penting Avanza buat bersaing dengan Mitsubishi Xpander yang sempat merepotkan pada tahun lalu.

Soerjo menegaskan permintaan meningkatkan produksi Avanza tidak akan mengurangi produksi model kolaborasi lain, yakni Toyota Rush-Daihatsu Terios, Toyota Agya-Daihatsu Ayla, dan Toyota Calya-Daihatsu Sigra . Mereka hanya ingin shift kerja di pabrik Daihatsu ditambah.

"Kami minta naikin jadi 8.000-9.000 unit per bulan. Kami sudah menargetkan wholesales di angka segitu. Kalau sekarang kan masih di angka 5.000-an unit," ucapnya.

Bila produksi Avanza sudah meningkat, Soerjo meyakini dalam tiga bulan ke depan angka inden bakal berada berkurang dan masuk tahap 'aman'.

"Januari-Februari memang ada kendala produksi. Mau tidak mau kami harus catch up di bulan April, Mei. Tapi kami tidak akan lewatkan momentum lebaran untuk suplai ke konsumen sebanyak-banyaknya," kata Soerjo. (ryh/fea)