Dalam daftar terebut, Indonesia menempati posisi keenam sebagai negara dengan pengguna perangkat mobile terbanyak yang terkena serangan malware. Di tahun 2018 ada 34,84 persen atau setara dengan tiga dari sepuluh penguna seluler Indonesia terkena serangan. Dengan kata lain, Indonesia merupakan target empuk serangan malware di perangkat mobile.
Kendati angka serangannya meningkat, namun jumlah malware berbahaya justru menurun. Peneliti menyimpulkan jika upaya penyebar malware untuk meningkatkan kualitas serangan menjadi lebih berdampak dan melalui jalur distribusi yang lebih tepat sasaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Peretas Tengah Giat Produksi Malware |
"Data dalam laporan terbaru kami membuktikan bahwa ancaman tersebut nyata adanya di negara ini, sehingga sudah sepatutnya masyarakat Indonesia memiliki perhatian lebih terhadap pengetahuan ancaman siber yang lebih baik," terangnya dalam keterangan resmi.
Salah satu jenis serangan yang paling banyak dilakukan adalah serangan menggunakan Trojan-Droppers. Serangan ini bisa menembus perlindungan sistem dan menyalurkan semua jenis program berbahaya seperti virus Trojan hingga ransomware yang bisa menginfeksi isi perangkat untuk sejumlah uang tebusan.
"Kami mengamati teknik terbaru dalam menginfeksi perangkat seluler, seperti pembajakan DNS, serta mengawasi skema distribusinya yang semakin canggih, seperti melalui spam SMS," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN] (lea/evn)