Hingga Februari, Mesin Ais Jaring 11 Ribu Konten Terorisme

CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 15:58 WIB
Hingga Februari, Mesin Ais Jaring 11 Ribu Konten Terorisme Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengatakan penggunaan mesin ais telah melacak 11.480 konten radikalisme dan terorisme sejak Januari 2018 sampai Februari 2019.

Sebelum menggunakan mesin ais, Kemenkominfo mencatat hanya berhasil menjaring 323 konten radikalisme dan terorisme selama periode 2009 hingga 2017. 

"Dulu sangat manual hanya 300 konten. Dari Januari 2018 sampai Februari 2019. Pertumbuhan sangat dahsyat, jumlahnya naiknya minta ampun," kata Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu di Kantor Indosat Ooredoo, Jakarta Pusat, Senin (18/3).


Proses pelacakan konten radikalisme dan terorisme dilakukan Kemenkominfo sejak diberlakukannya UU ITE pada 2009. Namun proses pelacakan saat itu masih dilakukan secara manual sebelum menggunakan mesin AIS.

"Konten terorisme dan radikalisme sebelum mesin AIS sampai sampai 2017 ada 323. Setelah penggunaan AIS dari Januari 2018 sampai Februari 2019, kami mencatat sekitar 11 ribu konten terorisme dan radikalisme," imbuh pria yang kerap disapa Nando.

Jika dibagi berdasarkan layanan, Nando mengatakan penyebaran konten radikalisme dan terorisme terbanyak di Instagram dan Facebook. Dari total 11803 konten yang terlacak, 8.131 di antaranya berada di Facebook dan Instagram.

Twitter menyumbang 1.384 konten radikalisme dan terorisme. Disusul oleh YouTube 677 konten, Telegram 614 konten, File Sharing 502 konten, situs 494 konten.

Nando mengungkapkan konten yang masuk kategori radikalisme dan terorisme adalah konten yang mengajak warganet untuk melakukan kekerasan kepada suatu golongan atau suku.

"Misalnya konten-konten membuat bom , mengajak orang untuk melakukan kekerasan pada kelompok lain. terhadap agama lain terhadap suku lain. Ada ideologi yang sengaja diceritakan dalam unggahan itu untuk melakukan pembunuhan." kata Nando.

[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)