Mobil Listrik Ancam Bisnis Oli, Pertamina Beralih ke Baterai

Febri Ardani, CNN Indonesia | Senin, 01/04/2019 13:14 WIB
Mobil Listrik Ancam Bisnis Oli, Pertamina Beralih ke Baterai Pekerja memeriksa produk minyak pelumas dalam kemasan botol di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants, Jakarta, Selasa (8/12). (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Inkubator kendaraan listrik lagi disiapkan pemerintah, bila sudah waktunya lahir maka fenomena otomotif bakal dimulai. Di balik semua hal positif yang bisa dibicarakan, kendaraan listrik punya sisi gelap yang salah satunya mengancam industri besar pelumas di Tanah Air.

Tanpa mesin pembakaran dalam, kendaraan listrik tidak butuh banyak pelumas. Secara alamiah, bila semakin banyak kendaraan listrik maka permintaan pelumas akan berkurang dan hal itu sudah dipandang serius oleh produsen pelumas besar di Tanah Air, Pertamina Lubricants.

Direktur Penjualan dan Pemasaran Pertamina Lubricants Andria Nusa mengakui industri pelumas hanya punya 5 - 10 tahun di Indonesia sebelum ada penurunan drastis permintaan pelumas otomotif.


Menurut data Asosiasi Pelumas Indonesia (Aspelindo), kapasitas produksi pelumas di dalam negeri sebesar 2 juta kiloliter per tahun. Pada 2018, kebutuhan pelumas di Indonesia yang 80 persennya untuk otomotif mencapai 950 ribu kiloliter atau senilai Rp30 triliun.

Andria mengatakan pihaknya tidak berharap program kendaraan listrik dari pemerintah ditunda-tunda. Dia mengatakan hal itu boleh terjadi karena kepentingan nasional.

"Jadi kalau memang itu sudah tiba, ya apa boleh buat. Cuma bagi kami, strateginya harus mempersiapkan tidak lagi jualan oli tetapi jualan yang lain. Maksudnya tidak hanya jualan oli ... sampai kalau tidak salah sampai 2025 itu 20 persen kendaraan berteknologi listrik," ucap Andria di Jakarta, Rabu (27/3).

Kementerian Perindustrian saat ini tinggal sedikit lagi menelurkan regulasi Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang meliputi Low Cost Green Car (LCGC) jilid dua, kendaraan listrik (murni listrik dan hybrid), serta flexy engine.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan pada 2025 sekitar 20 persen kendaraan yang diproduksi lokal adalah kendaraan berbasis listrik. Pada 2030 ditargetkan Indonesia menjadi basis produksi kendaraan berbasis listrik buat pasar domestik dan ekspor.

Beralih ke Bisnis Baterai

Andria menjelaskan sebagian strategi menghadapi itu dengan diversifikasi bisnis. Salah satu yang diungkap lagi diupayakan adalah masuk ke bidang baterai.

"Sekarang kita ya harus diversifikasi, kalau kami mikir akan bisnis baterai, charging. Dan kita punya SPBU itu banyak, kita bisa, stasiun charging paling tidak bisa kita buat, enggak begitu susah cari lahan," ungkap Andria.

Pertamina diketahui sedang menjajaki kerja sama bisnis untuk menjadi pemasok baterai skuter listrik Gesits, Gesits Technology Indo (GTI). Konsep yang ditawarkan adalah model tukar baterai di jaringan SPBU.

"Kebetulan dari Pertamina sudah ada kerja sama baterai untuk menyediakan baterai Gesits, swap baterai jadi kita yang bisnis seperti tabung LPG. Tapi kan bertahap, kita jualan olinya tetap. Ya harus mulai diversifikasi," ucap Andria.

[Gambas:Video CNN] (fea)