Saat ini pesawat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan rencananya akan menjalankan misi pertama pada 2023.
Misi pertama ini adalah terbang dan menabrakkan diri ke asteroid Didymos dan satelitnya yang dinamakan Didymoon. Asteroid ini punya lebar 780 meter dan satelitnya selebar 160 meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat antariksa biasanya dikendalikan dari Bumi untuk menentukan arah terbangnya. Namun, Hera akan memiliki sistem navigasi otomatis yang ditanam di badan pesawat. Sehingga pesawat itu bisa menentukan arah terbangnya sendiri segera tanpa harus menunggu komando dari Bumi sampai yang terlambat beberapa menit.
Pesawat ini akan mengumpulkan informasi dari objek terdekat menggunakan sensor. Informasi ini akan dikumpulkan untuk membuat model dari lingkungan sekitar. Pesawat lalu membuat skenario keselamatan di sekitar objek dan bisa terbang hingga 200 meter di permukaan asteroid.
Pesawat ruang angkasa ini dibuat agar bisa menghalau asteroid seperti Didymos dalam misi DART, seperti diberitakan Space. Pesawat ini juga akan memberi informasi mengenai komposisi, struktur, dan bagaimana asteroid akan berperilaku ketika terhadap dampak kinetik.
"Saya ingin tahu apa yang akan terjadi jika kita menabrakkan pesawat ke asteroid dengan sangat, sangat cepat."
Para ilmuwan berharap tabrakan ini bisa membelokkan asteroid yang lintasannya mengarah ke Bumi.
[Gambas:Youtube] (eks/eks)