Pesawat Antariksa Otonom Dibuat, Cegah Asteroid Tabrak Bumi

CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 12:35 WIB
Pesawat Antariksa Otonom Dibuat, Cegah Asteroid Tabrak Bumi Pesawat ruang angkasa otonom Hera (dok. ESA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Luar Angkasa Eropa (ESA) memperkenalkan pesawat antariksa otonom, Hera. Pesawat ruang angkasa yang bisa bermanuver sendiri ini akan digunakan untuk melindungi Bumi dari ancaman asteroid.

Saat ini pesawat tersebut masih dalam tahap pengembangan dan rencananya akan menjalankan misi pertama pada 2023.

Misi pertama ini adalah terbang dan menabrakkan diri ke asteroid Didymos dan satelitnya yang dinamakan Didymoon. Asteroid ini punya lebar 780 meter dan satelitnya selebar 160 meter.


"Kalau mobil otonom adalah masa depan di Bumi, Hera adalah pionir dari kendaraan antariksa otonom luar angkasa," jelas Paolo Martino, Kepala Insinyur Sistem untuk misi Hera dalam pernyataannya.

Pesawat antariksa biasanya dikendalikan dari Bumi untuk menentukan arah terbangnya. Namun, Hera akan memiliki sistem navigasi otomatis yang ditanam di badan pesawat. Sehingga pesawat itu bisa menentukan arah terbangnya sendiri segera tanpa harus menunggu komando dari Bumi sampai yang terlambat beberapa menit.

Namun, dalam percobaan pertamanya, Hera tidak akan diterbangkan secara otonom sepenuhnya. Selain itu pengetesan akan dilakukan ketika semua tujuan penting telah selesai.

Pesawat ini akan mengumpulkan informasi dari objek terdekat menggunakan sensor. Informasi ini akan dikumpulkan untuk membuat model dari lingkungan sekitar. Pesawat lalu membuat skenario keselamatan di sekitar objek dan bisa terbang hingga 200 meter di permukaan asteroid.

"Pengumpulan data Hera akan dilakukan lewat kamera yang disebut Asteroid Framing Camera. Data ini akan digabungkan dengan altimeter laser, kamera termal infra merah, pelacak bintang, sensor inertial, dan akselerometer," jelas Jesus Gil Fernandez, insinyur ESA yang ahli dalam navigasi dan kendali, seperti dikutip Digital Trend, Minggu (7/4).

Pesawat ruang angkasa ini dibuat agar bisa menghalau asteroid seperti Didymos dalam misi DART, seperti diberitakan Space. Pesawat ini juga akan memberi informasi mengenai komposisi, struktur, dan bagaimana asteroid akan berperilaku ketika terhadap dampak kinetik. 

"Saya ingin tahu apa yang akan terjadi jika kita menabrakkan pesawat ke asteroid dengan sangat, sangat cepat."

Para ilmuwan berharap tabrakan ini bisa membelokkan asteroid yang lintasannya mengarah ke Bumi.

[Gambas:Youtube] (eks/eks)