Toyota Lebih Waspada Soal Jaringan Dealer Merek China

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 13:23 WIB
Toyota Lebih Waspada Soal Jaringan Dealer Merek China Logo Toyota. (Foto: REUTERS/Yuya Shino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspansi mobil China di industri otomotif Tanah Air tidak bisa dipandang sebelah mata. Keseriusan dua wakil China, SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) dan Sokonindo Automobile (DFSK), mendapat perhatian dari pemimpin pasar, Toyota Astra Motor (TAM).

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan nasional mencapai 1.151.291 unit pada 2018. Merek-merek China yang setidaknya menjual 13 ribu unit mendapat pangsa pasar sebesar satu persen.

Di antara merek-merek China, terbesar adalah Wuling yang penjualannya 12 ribu unit. Sedangkan DFSK baru bisa melego sekitar 1.200-an unit.


Pihak TAM mengakui secara perlahan mobil-mobil China sudah sebagian merebut konsumen potensial. Keberadaan merek China dianggap mempengaruhi peta otomotif dalam negeri.

"Ngaruh. Kalau lihat dari total market tumbuh, tapi share [Toyota] turun. Berarti pertumbuhan tidak bagus," kata Executive General Manager (TAM) Fransiscus Soerjopranoto saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Senayan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pada 2018 pangsa pasar Toyota tercatat 30,6 persen, angka itu menurun dari hasil 2017 sebesar 34,5 persen atau 371.332 unit.

Sepanjang tiga bulan 2019, rata-rata penjualan mobil Toyota terdeteksi menurun hingga 26 ribu unit per bulan. Pada 2018, rata-ratanya 30 ribuan unit per bulan.

"Kalau Toyota, kami intinya tahan agar pangsa pasar tidak turun di bawah 30 persen. [Jika turun] Toyota harus berbenah, berarti masyarakat sudah mulai mempertimbangkan dengan produk di luar Toyota. Cuma tidak lah pangsa pasar Toyota di bawah 30 persen," katanya.

Wuling dan DFSK dipercaya bisa berbuat banyak dalam industri otomotif dinilai dari jumlah investasi senilai triliunan rupiah yang sudah digelontorkan. Kedua merek itu memiliki pabrik di Indonesia dan mengincar pasar gemuk dengan menawarkan produk 'murah meriah' yang punya fitur-fitur kompetitif dari merek Jepang.

Wuling telah menghadirkan produk Low Multi Purpose Vehicle (MPV) Confero dan Cortez kemudian diikuti Almaz yang masuk di pasar SUV. Sementara DFSK diketahui mengincar pasar SUV melalui Glory 560, Glory 580, dan pikap Super Cab.

Soerjopranoto menjelaskan pihaknya tidak terlalu khawatir dengan produk China. Toyota masih menganggap rival sepadan adalah sesama merek Jepang bila dipandang dari sisi produk.

Pria yang akrab disapa Soerjo ini menilai belum semua masyarakat menyadari mobil China. Menurut dia masyarakat masih menilai latar belakang produk otomotif sebelum memutuskan membeli.

Jaringan Penjualan Merek China

Ketimbang produk, Soerjo justru mewaspadai pengembangan jaringan penjualan merek China. Dia mengakui jaringan penjualan Wuling dan DFSK saat ini mulai tumbuh di sudut-sudut kota.

Per akhir tahun lalu, Toyota yang sudah berpuluh-puluh tahun hadir di Indonesia memiliki 300 outlet penjualan. Sementara Wuling dalam waktu kurang dari tiga tahun sudah punya 93 outlet dan DFSK menargetkan mampu dapat membangun 90 dealer sampai akhir tahun ini.

"Ini menarik, ya seperti Wuling dari penjualannya per dealer mungkin kini bisa jualan 60 unit sebulan. Belum lagi dengan layanan jaringan penjualan jadi tambah menarik. Tapi balik lagi, ada konsumen yang hanya mau dengan merek yang sudah punya nama," ucap dia. (ryh/fea)