Produsen Diminta Tanggung Jawab Urus Sampah Plastik

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 15:49 WIB
Produsen Diminta Tanggung Jawab Urus Sampah Plastik Ilustrasi. (Anadolu Agency/Mahendra Moonstar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) meminta produsen plastik dan produsen makanan dan minuman kemasan plastik untuk ikut bertanggung jawab dalam pengumpulan sampah plastik di Indonesia.

Hal ini ia tegaskan terkait penemuan sampah bungkus mi instan yang berusia 19 tahun. Foto penemuan tersebut ramai di Twitter, usia sampah teridentifikasi berdasarkan tulisan 'Dirgahayu 55 Tahun Indonesiaku'.

"Perlu tanggung jawab dari produsen juga untuk mengumpulkan kembali sampah-sampah kemasan yang mereka produksi," ujar Manajer Program GIDKP Dithi Sofia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/4).
Dithi mengatakan peran produsen dan industri dalam pengelolaan sampah berada dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 97 Tahun 2017 tentang sampah rumah tangga dan sejenisnya.


"Produsen memang punya tanggung jawab untuk mengelola sampah produksi dan konsumsi dan ada aturannya. Bukan hanya karena konsumennya punya kebiasaan habis pakai buang," kata Dithi.

Dithi juga mengatakan GIDKP menyarankan agar perusahaan mendesain ulang plastik kemasan dari bahan yang mudah didaur ulang secara alami dan lebih tebal agar bisa digunakan berkali-kali.

"Plastik harus dibuat dari bahan yang lebih mudah didaur ulang dan dibuat lebih tebal agar tidak mudah sobek. Kami menyarankan jika masih menggunakan plastik agar plastiknya bisa di daur ulang atau digunakan ulang," kata Dithi.

Kendati demikian, Dithi menyarankan produsen masih harus mengelola sampah karena masyarakat masih terbiasa langsung membuang plastik meski baru sekali pakai.
"Misalnya seperti Aqua menyediakan drop box di titik-titik tertentu untuk mengembalikan sampah kemasan botolnya. Mengumpulkan sampah-sampah kemasan botol air mineral di laut untuk kemudian di daur ulang kembali menjadi botol," tutur Dithi.

Dithi mengatakan agar lebih mudah didaur ulang, plastik harus terbuat dari bahan plastik murni. Dithi mengatakan campuran zat aditif pada pembuatan plastik akan mempersulit proses daur ulang. Salah satu contoh plastik yang dicampurkan zat aditif adalah kantong plastik di pasar swalayan.

"Kalau kantong plastik di swalayan beda lagi karena dicampur dengan campuran aditif yang membuat sulit didaur ulang. Kalau yang bisa didaur ulang itu biasanya plastik murni tanpa campuran aditif," kata Dithi.
Dihubungi terpisah Marine Tourism & Ocean Plastic Manager Indarwati Aminuddin mengatakan penemuan bungkus Indomie mengirimkan pesan bahwa Indonesia belum memikirkan pengurangan hingga pola pengelolaan sampah dengan baik.

"Ini sebenarnya contoh bahwa kita tidak terlalu berpikir bagaimana atau mengurangi dan menghentikan membuang sampah di laut. Ini pesan yang disampaikan dari pembungkus Indomie tersebut," ujar Indarwati. (jnp/age)