Alasan Bungkus Plastik Mi Instan Tak Terurai Hingga 19 Tahun

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 09/04/2019 07:22 WIB
Alasan Bungkus Plastik Mi Instan Tak Terurai Hingga 19 Tahun Ilustrasi. ( CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova mengungkapkan faktor utama plastik sulit terurai di perairan adalah intensitas sinar matahari yang kurang akibat posisi plastik berada di bawah permukaan air.

Reza pun menjelaskan faktor plastik yang awalnya berada di permukaan air dapat turun ke posisi bawah permukaan air karena terjadi penempelan bahan organik seperti lumpur, nutrien dan biota-biota kecil yang ada di perairan.

"Tapi yang jelas jika posisi nya ada di atas akan lebih cepat hancur dibanding posisi nya yang ada di dasar perairan karena secara suhu lebih kecil. Lalu kemungkinan paparan sinar mataharinya lebih pendek daripada yang di bagian permukaan," jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/4).



"Ada biota-biota lain lama-lama plastik itu berat jenisnya akan lebih berat dari air karena yang menumpang banyak ditempeli lumpur, nutrien, dan biota-biota lain akhirnya turun ke bawah [permukaan air]," sambungnya.

Sinar matahari itu berfungsi untuk memutus ikatan polimer sehingga plastik akan lebih cepat terurai. Polimer merupakan gabungan dari ikatan-ikatan monomer yang ada di plastik itu sendiri.

Reza pun sempat memberi contoh untuk bahan plastik botol air mineral dapat bertahan selama 50 hingga 100 tahun. Namun dia tidak dapat memastikan berapa lama plastik yang berada di perairan dapat terurai karena bergantung dengan material yang menempel pada plastik.

"Plastik ini diciptakan awalnya itu untuk bisa bertahan lama, tergantung dari materialnya apa saja yang menempel agak susah untuk dipastikan tetapi bisa tahunan," pungkasnya.


Dilansir dari diet kantong plastik, plastik memang sulit diurai oleh mikroorganisme karena rantai karbonnya yang panjang. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik, akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan.

Selain itu, jika plastik digunakan sebagai wadah makanan maka berpotensi untuk mengganggu kesehatan manusia karena racun yang ada di plastik itu akan berpindah ke makanan yang dikonsumsi.

Persoalan plastik ini muncul akibat dari foto viral yang diunggah oleh Finanisa Tiara Pradani lewat akun Twitternya @selfeeani pada Minggu (7/4) yakni kemasan plastik mi instan berusia 19 tahun yang bertuliskan 'Dirgahayu 55 Tahun Indonesiaku'.

Bungkus mi instan itu ia temukan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat dihubungi CNNIndonesia.com, Fianisa mengatakan bungkus Indomie ini akan dikirimkan ke Aceh untuk kepentingan iklan layanan masyarakat.

"Mau dikirim ke Aceh untuk iklan layanan masyarakat agar muncul kesadaran masyarakat. Di Twitter, ada yang minta plastik ini supaya dikirimkan ke Aceh," kata Fianisa, Senin (8/4). (din/age)