Pakar Sebut Tokoh Publik Memperuncing Isu Pemilu di Medsos

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 12:10 WIB
Pakar Sebut Tokoh Publik Memperuncing Isu Pemilu di Medsos Ilustrasi penghitungan suara Pemilu 2019. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur komunikasi Indonesia Indicator Rustika Herlambang menilai gonjang-ganjing pasca Pemilu 2019 di media sosial dipengaruhi oleh sejumlah tokoh publik. Influencer atau tokoh yang berpengaruh disebut memiliki peran penting dalam menyebarkan sejumlah isu terkait Pemilu.

"Jadi masing-masing itu [netizen] memiliki keyakinan kebenaran yang ingin dipercayai, jadi tokoh-tokoh seperti influencer itu dia memegang peranan penting yang men-drive isu di sosial media," kata Rustika saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (23/4).

Rustika mengatakan netizen yang merupakan pendukung paslon nomor urut 01 dan 02 di Twitter mengikuti arus dari tokoh yang berpengaruh di kedua kubu.


Emosi reaksi netizen dengan saling mencaci satu sama lain disebut Rustika karena ada pengaruh sosok yang dipercayai.

"Netizen menganggap bahwa di kubunya Jokowi dia merasa menang, di kubunya Prabowo juga merasa menang dan sejauh ini emosi reaksi terhadap isu tersebut kerap saling mencaci maki dalam jumlah besar. Mereka lebih percaya apa yang diomongi Prabowo betul dan apa yang diomongin kubu Jokowi juga betul," terang Rustika.

Terelebih menurutnya saat ini media sosial telah menjadi ladang informasi bagi lapisan masyarakat. Bahkan menurutnya media arus utama (mainstream) seperti televisi dan media daring mengambil infromasi dari media sosial.

Ia mencontohkan hal itu juga dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang awalnya mengetahui isu kecurangan lembar C1 dari media sosial.

"Nah di sisi lain media mainstream sendiri juga mendapatkan informasi melalui media sosial. Isu tentang kecurangan itu KPU atau Bawaslu juga melihat dari sosial media soal C1 yang diunggah seperti itu [ada kecurangan]. Jadi sosial media itu memberikan informasi jauh lebih cepat," ucapnya.

Akibat adanya isu itu, Rustika mengatakan masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan mana hoaks dan bukan.

Padahal, ketidakmampuan masyarakat membedakan hoaks berbahaya dan berpotensi membuat kabar semakin viral sebelum mengetahui kebenarannya.

"Jadi agak membahayakan karena disinformasi cukup banyak di sosial media. Oleh karena itu masyarakat terutama netizen sebelum dia memviralkan sebaiknya dia juga mencari informasi yang betul itu yang mana,itu adalah kekhawatiran yg perlu menjadi perhatian bersama," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN] (din/evn)