"Jadi masing-masing itu [netizen] memiliki keyakinan kebenaran yang ingin dipercayai, jadi tokoh-tokoh seperti influencer itu dia memegang peranan penting yang men-drive isu di sosial media," kata Rustika saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (23/4).
Rustika mengatakan netizen yang merupakan pendukung paslon nomor urut 01 dan 02 di Twitter mengikuti arus dari tokoh yang berpengaruh di kedua kubu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Netizen menganggap bahwa di kubunya Jokowi dia merasa menang, di kubunya Prabowo juga merasa menang dan sejauh ini emosi reaksi terhadap isu tersebut kerap saling mencaci maki dalam jumlah besar. Mereka lebih percaya apa yang diomongi Prabowo betul dan apa yang diomongin kubu Jokowi juga betul," terang Rustika.
Ia mencontohkan hal itu juga dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang awalnya mengetahui isu kecurangan lembar C1 dari media sosial.
Akibat adanya isu itu, Rustika mengatakan masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan mana hoaks dan bukan.
Padahal, ketidakmampuan masyarakat membedakan hoaks berbahaya dan berpotensi membuat kabar semakin viral sebelum mengetahui kebenarannya.
"Jadi agak membahayakan karena disinformasi cukup banyak di sosial media. Oleh karena itu masyarakat terutama netizen sebelum dia memviralkan sebaiknya dia juga mencari informasi yang betul itu yang mana,itu adalah kekhawatiran yg perlu menjadi perhatian bersama," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (din/evn)