Menurutnya, Twitter masih belum berhasil mendeteksi cuitan lewat akun bot yang disebar dengan teknik perilaku tidak autentik yang terkoordinasi (coordinated inauthentic behavior).
Sehingga klaim Twitter yang menyebut saat ini telah berhasil membendung akun bot dalam perhitungan trending topic bisa dikatakan berhasil dalam beberapa level tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini diungkap Ismail menanggapi klaim Twitter yang menyebut bahwa mereka tak menghitung akun bot dalam perhitungan trending topic di platform tersebut.
Perilaku akun bot yang tidak lazim ini disebutkan Fahmi dapat diamati dari tingkat interaksi yang sangat rendah dari cuitan bot itu.
"Twitter sedikit user-nya (penggunanya), tapi selama ini banyak tsunami informasi yang bermula dari tweet atau tagar yg trending," cuitnya.
Resonansi ini bisa terjadi karena adanya irisan pengguna dari kanal-kanal tersebut yang turut menyebarkan di media sosial lain.
Tak cuma antar medsos, cuitan di Twitter juga kerap diambil oleh media lain seperti media online, koran, atau blog. Seringkali tulisan di blog ini juga dicuit ulang di Twitter atau Facebook, seperti tampak pada gambar yang dicuitkan Ismail.
[Gambas:Twitter]
Namun, agar suatu konten bisa viral, menyebar ke media sosial lain dan media massa, ada beberapa syarat. Ismail menyebut konten itu harus dilakukan oleh akun nyata dan bukan oleh coordinated inauthentic behavior yang melibatkan bot-bot. (eks)