Cara Kerja Drainase Vertikal ala Anies Atasi Banjir Jakarta

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 04/05/2019 18:02 WIB
Cara Kerja Drainase Vertikal ala Anies Atasi Banjir Jakarta Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginginkan setiap rumah dan gedung di Jakarta membangun drainase vertikal untuk menangkal banjir dan kekeringan.

Berbeda dengan sistem drainase pada umumnya, drainase vertikal merupakan tipe drainase untuk mengontrol air tanah melalui sumur.

Drainase vertikal memungkinkan otomatisasi kontrol kadar air tanah. Bagi pekerja konstruksi, mekanisme ini bisa meningkatkan produktivitas kerja sebanyak tiga hingga lima kali dan pasokan air juga menjadi lebih ekonomis.


Drainase vertikal dibagi menjadi empat varian yakni drainase sistemis, drainase acak, drainase bank, dan drainase gabungan.

Drainase sistemis menerapkan jarak yang sama antara sumur air di daerah tertentu, sementara drainase acak menempatkan sumur pada lokasi yang dianggap padar. Berikutnya drainase bank menerapkan sistem sumur linear untuk melindungi lokasi rawan banjir, sementara drainase gabungan yang mengkombinasikan sumur dengan drainase horizontal.

Konsep drainase vertikal pertama kali digunakan di AS pada 1923 hingga 1925. Sementara negara-negara Asia Tengah mulai mengadopsinya sejak 1950.

Mengutip Cawater, drainase vertikal bekerja dengan dilengkapi sistem vakum, pipa, dan pipa bawah tanah serta elemen yang menyediakan irigasi ladang.

Untuk membuat drainase vertikal dibutuhkan sumur atau lubang yang dibor dengan kedalaman 30 hingga 80 meter atau lebih serta diameter 0,7 hingga 1 meter. Kedalaman sumur bergantung pada kondisi geologi, kondisi hidrogeologis, dan kedalaman akuifer. Sekeliling dinding sumur dibuat fikasasi menggunakan selubung pipa.

Sumur dilengkapi filter yang terbuat dari pipa logam. Untuk memudahkan pemeliharaan, sumur vertikal disatukan dalam sistem yang terdiri dari 20 hingga 100 sumur.

Saat volume air meningkat, drainase vertikal akan bekerja dengan memompa sumur yang telah dihidupkan kemudian mengaliri area yang telah disiapkan. Ketika memasuki musim kering, pasokan air bisa digunakan untuk pengairan.

Dilansir Cofra, drainase vertikal sebaiknya diterapkan di lokasi dengan kondisi geologis lapisan tanah berbutir kasar atau berkelikil atau pemukiman dengan kadar air yang tinggi. (evn/evn)