Makin banyaknya kadar CO2 di atmosfer karena sifatnya yang memantulkan panas kembali ke Bumi. Ketika cahaya matahari masuk ke Bumi, panasnya akan diserap atau dipantulkan oleh daratan dan lautan.
Namun, dengan tingginya kadar CO2 di udara, radiasi panas ini terpantul kembali ke Bumi alih-alih keluar dari atmosfer. Sehingga, tingginya kadar CO2 di udara berpengaruh pada peningkatan pemanasan global, inilah yang dikenal dengan efek gas rumah kaca.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam catatan NOAA, "peningkatan gas rumah kaca telah membuat penganggaran energi di Bumi tidak seimbang, sebab ia menjebak lebih banyak panas dan menaikkan suhu rata-rata Bumi," seperti dilansir TechCrunch.
Laporan lain menyebut, saat ini peneliti saat ini tengah bereksperimen untuk mengubah karbondioksida itu menjadi batuan padat. Cara ini tengah dikembangkan oleh tim internasional yang terdiri dari peneliti dan insinyur yang bekerja untuk proyek CarbFix di Islandia.
"Dengan metode ini, kami telah mengubah waktu yang dibutuhkan secara drastis," jelas Geolog Sandra Osk Snaebjornsdottir.
Mereka menggunakan uap untuk menangkap CO2 dan mengembunkannya menjadi sejenis air bersoda. Zat cair ini lantas dialirkan lewat pipa ke lokasi yang berada beberapa mil dari lokasi penelitian.
"Hampir semua CO2 yang disuntikkan akan menjadi mineral dalam waktu dua tahun dalam percobaan pertama kami," jelas Snaebjornsdottir, seperti dikutip Earth.
Meski teknik ini berhasil dilakukan di Islandia, para peneliti memberi catatan mungkin teknik ini tidak berhasil di wilayah lain. Selain itu, teknik ini sangat boros air. Untuk tiap satu ton CO2 yang disuntikkan ke bawah bumi dan dibekukan, dibutuhkan 25 ton air yang telah disuling sehingga tak mengandung garam. (eks/eks)