Sehingga, dengan kecepatan ini, penerbangan Jakarta-Tokyo yang biasa ditempuh 7 jam 25 menit, bisa dipotong kurang dari 100 menit, menjadi sekitar 90 menit saja.
Hermeus sendiri berbasis di Atlanta, Amerika Serikat, dan didirikan tahun lalu dan bermimpi untuk membuat pesawat tercepat di dunia alih-alih mengeksplorasi ruang angkasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa mantan petinggi Blue Origin ada di jajaran penasihat perusahaan ini, seperti Rob Meyerson yang sempat menjadi President perusahaan wisata luar angkasa yang didirikan Jeff Bezos itu. Selain itu, Chief Technology Officer Hermeus, Glenn Case, juga sempat bekerja merancang propulsi dan insinyur pengembang Blue Origin selama empat setengah tahun.
"Hermeus mengembangkan pesawat yang tidak hanya meningkatkan pengalaman penerbangan dengan mengurangi waktu terbang, tapi juga berpotensi memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar," jelas Vinod Khosla, founder of Khosla Ventures.
Pada Januari 2019, Boom telah mendapat pendanaan lebih dari US$140 juta untuk mengembangan pesawat mereka, Overture. Pesawat ini akan terbang dengan kecepatan 2,2 Mach, 10 persen lebih cepat dari pesawat supersonik Concorde. Namun, sedikit lebih lambat dari pesawat yang akan dikembangkan Hermeus yang akan memiliki kecepatan 3 Mach.
Sumber resmi Boom menyebut pesawat mereka siap dioperasikan secara komersil pada pertengahan 2020. Mereka bahkan menyebut kalau Virgin Group dan Japan Airlines telah memesan dengan total 30 pesawat, seperti dilaporkan ArsTechnica.
[Gambas:Youtube] (eks/eks)